Jumat, 12 Jumadil Awwal 1440 / 18 Januari 2019

Jumat, 12 Jumadil Awwal 1440 / 18 Januari 2019

Taiwan Tunjuk Perdana Menteri Baru

Jumat 11 Jan 2019 13:41 WIB

Rep: Fergi Nadira/ Red: Nur Aini

Presiden terpilih Taiwan Tsai Ing Wen.

Presiden terpilih Taiwan Tsai Ing Wen.

Foto: Reuters/Pichi Chuang
William Lai mundur sebagai perdana menteri setelah Partai DPP kalah dalam Pemilu.

REPUBLIKA.CO.ID, TAIPEI -- Taiwan menunjuk mantan ketua partai pro-kemerdekaan, Democratic Progressive Party (DPP) sebagai perdana menteri yang baru. Perdana Menteri sebelumnya, William Lai menyatakan ia dan seluruh kabinetnya mundur pada Kamis (10/1). 

Langkah Lai diambil dua bulan setelah partai DPP kalah dalam pemilihan umum (pemilu) di sembilan dari 10 daerah yang ada. "Waktu sudah habis. Saya harus mengundurkan diri untuk bertanggung jawab atas kekalahan dalam pemilu," ujar Lai pada pertemuan kabinet.

Presiden Taiwan Tsai Ing-wen memilih Su Tseng-chang yang merupakan mantan ketua dua periode DPP. Tsai mengatakan, kini Taiwan tengah menghadapi tantangan di tengah meningkatnya ancaman Cina dan ketegangan perdagangan antara pendukung utamanya, Amerika Serikat (AS) dan Cina.

"Demokrasi dan pembangunan Taiwan menghadapi tantangan. Cina memaksa kita memakai "Satu negara, Satu sistem"," ujar Tsai dikutip laman Channel News Asia, Jumat (11/1).

Su Tseng-chang bersumpah untuk memimpin pemerintahan di tengah tantangan itu. Dia menyatakan akan belajar dari kesalahan-kesalahan sebelumnya. "Situasinya sulit dan tugasnya berat," ujar Su.

Su pernah diangkat sebagai Perdana Menteri pada 2006 oleh mantan Presiden Taiwan Chen Shui-bian. Su dijuluki 'bola lampu' oleh para pendukungnya sebab kepalanya yang botak. Dia telah memimpin Kota Tipei Baru yang padat penduduk selama bertahun-tahun. 

Perdana Menteri (PM) Taiwan baru tahun ini akan segera membentuk kabinet dan menjalankan pemerintahan sehari-hari. Janji PM baru inipun diharapkan segera dijabarkan dan dilaksanakan.

Hanya satu tahun jelang pemilihan presiden berikutnya, analis mengatakan, Tsai dan PM baru harus menopang dukungan publik untuk kebijakan pemerintahan. Hal itu terutama menyoal hubungan dengan Cina.

Tsai pernah menyatakan bahwa pemerintahannya akan mempertimbangkan soal kekalahan DPP dalam pemilu. Namun, ia tetap akan berdiri teguh mempertahankan demokrasi Taiwan dalam mengahdapi ancaman baru dari Cina yang kian gencar.

Sejumlah anggota DPP mendesak Tsai agar tidak ikut bertarung dalam pilpres berikutnya. Tsai sendiri memang belum secara terang-terangan menyatakan akan maju mencalonkan diri lagi pada pilpres tahun depan. 

DPP kini telah memiliki ketua baru, Cho Jung-tai yang ditunjuk pada Rabu (9/1). Menurutnya, kini DPP harus merangkak lagi dari bawah.

Taiwan dijuluki Cina sebagai daerah yang membangkang. Presiden Cina Xi Jinping awal bulan ini mengancam dengan menggunakan kekuatan militer bila diperlukan membujuk Taiwan untuk menyatu kembali.

Penasihat senior presiden, Yao Chia-wen mengatakan, PM baru tidak hanya fokus pada masalah-masalah domestik, namun juga harus lebih memperhatikan masalah lintas-selat dan keamanan nasional. "PM baru juga harus menangani masalah seperi pencegahan masalah dari Cina dan kemungkinan campur tangan pemilu oleh Cina," ujarnya.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES