Friday, 15 Rajab 1440 / 22 March 2019

Friday, 15 Rajab 1440 / 22 March 2019

Sepanjang 2018, 1.500 Imigran Tewas di Laut Mediterania

Ahad 29 Jul 2018 16:53 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Friska Yolanda

Kapal pengangkut imigran menuju Italia

Kapal pengangkut imigran menuju Italia

Foto: cbc
Imigran kini lebih memilih Spanyol sebagai tujuan suaka.

REPUBLIKA.CO.ID, MEDITERANIA -- Organisasi Internasional PBB untuk Migrasi (IOM) melaporkan, sepanjang 2018, telah terdapat setidaknya 1.500 imigran yang tewas di Laut Mediterania. Mereka tewas ketika sedang berupaya menyeberang dari Libya menuju Italia. 

"Satu dari 19 imigran yang melakukan perjalanan laut Libya-Italia yang berbahaya telah menggal tahun ini," kata IOM dalam laporannya, dikutip laman Al Araby pada Sabtu (28/7). Menurut IOM, selama lima tahun terakhir, jumlah imigran yang tewas di Laut Mediterania memang selalu lebih dari 1.500 orang setiap tahunnya. 

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, pada 2018, arus imigran tidak hanya menuju Italia, tapi juga Spanyol. Terdapat setidaknya 21 ribu imigran yang berupaya mencapai Spanyol. Secara keseluruhan, 55 ribu imigran telah mendarat di Eropa tahun ini. 

Pemerintah sayap kanan Italia telah menutup pelabuhannya bagi kapal-kapal yang mengangkut imigran. Kapal-kapal tersebut dikelola oleh organisasi atau badan amal internasional. Keputusan Pemerintah Italia tak ayal memicu kecaman luas.

Baca juga, Komisi Eropa akan Tanggung Biaya Penjemputan Imigran

"Ada dua hal yang penting dicatat, pertama, meskipun jumlah yang sangat rendah tiba di Italia, kematian per kapita, atau tingkat kematian per seribu orang, mungkin berada pada tingkat tertinggi sejak darurat dimulai," kata juru bicara IOM Joel Millman. 

Millman mengatakan, para imigran tampaknya mulai tak tertarik untuk menyeberang ke Italia. Mereka memilih Spanyol sebagai gantinya. 

Krisis imigran telah memicu friksi di antara negara-negara anggota Uni Eropa. Sebagian anggota hendak menutup negaranya dari arus imigran, sementara yang lainnya berupaya mencari solusi alternatif guna menolong mereka. 

Bulan lalu, para pemimpin Uni Eropa membuat kesepakatan di Brussels, Belgia. Mereka mempertimbangkan mendirikan pusat pemrosesan suaka di luar blok Uni Eropa. Pusat tersebut kemungkinan besar didirikan di Afrika Utara. 

Pendirian pusat pemrosesan suaka itu dilakukan dengan maksud mencegah para imigran dan pengungsi naik ke kapal penyelundup yang terikat Uni Eropa. 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA