Selasa 05 Sep 2017 20:00 WIB

Pengungsi Rohingya di Bangladesh Mulai Terserang Penyakit

Rep: Fira Nursya'bani/ Red: Andi Nur Aminah
Anak-anak Rohingya di depan kamp-kamp pengungsian di Rakhine
Foto: PKPU
Anak-anak Rohingya di depan kamp-kamp pengungsian di Rakhine

REPUBLIKA.CO.ID, COX'S BAZAR -- Hampir setiap pengungsi Rohingya yang berada di kamp pengungsian Kutupalang, Cox's Bazar, Bangladesh, dilaporkan menderita beberapa jenis penyakit. Sejumlah pengungsi dilansir Arab News mengalami penyakit kulit karena terus terkena hujan. Sedangkan anak-anaknya menderita kekurangan gizi.

Zaed Alam (45 tahun) tiba di kamp pengungsian Kutupalang pada Senin (4/9) dengan tangan hampa. Sebelumnya ia merupakan seorang petani kaya di desa Kumarkhali di negara bagian Rakhine, Myanmar.

Perjalanannya melintasi perbatasan ke Bangladesh dilakukan secara sembunyi-sembunyi dengan melewati gua-gua, bersama 13 anggota keluarganya. Mereka bepergian pada malam hari, lebih dari 175 km dalam 10 hari, dengan hanya memakan dedaunan liar.

Sementara Sayed Nur (22) tiba di kamp Kutupalang dengan luka peluru di lengan kirinya, bersama empat anggota keluarganya. Nur sebelumnya tinggal di desa Shaheb Bazar di Rakhine, sebagai seorang petani miskin yang biasa mengolah tanah tetangganya.

"Empat warga desa lainnya dibunuh oleh tentara Myanmar. Saya sangat beruntung. Dengan rahmat Allah Yang Maha Kuasa, saya bisa menyelamatkan hidup saya," kata Nur.

Butuh waktu enam hari baginya untuk sampai ke kamp pengungsi. Ia tiba lima hari yang lalu. Dia juga harus bersembunyi di gua-gua pada siang hari dari Angkatan Darat Myanmar.

Selama enam hari itu, keluarga beranggotakan empat orang tersebut hanya memiliki 2 kg beras. Pada Ahad (3/9), sesama warga Rohingya yang telah berada terlebih dahulu di kamp, memberi keluarga itu sejumlah kecil nasi matang.

Pada Senin (4/9), dua ledakan mengguncang daerah di sisi perbatasan Myanmar dan Bangladesh, yang disertai dengan suara tembakan dan asap hitam tebal. Penjaga perbatasan Bangladesh mengatakan seorang wanita kehilangan kakinya akibat ledakan yang berjarak sekitar 50 meter dari perbatasan dengan Myanmar, dan segera dibawa ke Bangladesh untuk perawatan.

Seorang pengungsi Rohingya yang pergi ke lokasi ledakan mengaku melihat bom berupa cakram logam berdiameter sekitar 10 cm yang terkubur dalam lumpur. Dia mengatakan, dia yakin ada dua perangkat lainnya yang terkubur di tanah. Dua pengungsi mengatakan mereka melihat anggota Tentara Nasional Myanmar di sekitar lokasi sebelum ledakan tersebut terjadi.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement