Monday, 22 Ramadhan 1440 / 27 May 2019

Monday, 22 Ramadhan 1440 / 27 May 2019

PBB: Sedikitnya 84 Meninggal Saat Melarikan Diri dari ISIS

Ahad 03 Mar 2019 00:18 WIB

Red: Reiny Dwinanda

Seorang anak menyaksikan bangunan bekas pengeboman di Aleppo, Suriah.

Seorang anak menyaksikan bangunan bekas pengeboman di Aleppo, Suriah.

Foto: REUTERS/Abdalrhman Ismail
Dua per tiga dari korban meninggal saat melarikan diri dari ISIS adalah anak-anak.

REPUBLIKA.CO.ID, JENEWA -- Sedikitnya 84 orang telah meninggal sejak Desember 2018 dalam perjalanan mereka ke kamp al-Hol di bagian timur laut Suriah setelah melarikan diri dari ISIS di kawasan Deir al-Zor. Perserikatan Bangsa-Bangsa pada Jumat (1/2) mengungkapkan dua pertiga di antara para korban adalah anak-anak.

Baca Juga

Pasukan Demokratik Suriah (SDF) dukungan Amerika Serikat telah melakukan aksi selama beberapa pekan untuk menguasai kantung terakhir ISIS (Daesh) di desa Baghouz yang terkepung dekat perbatasan Irak. Akan tetapi, operasi itu terhenti sementara karena ada usaha-usaha mengevakuasi ribuan warga sipil.

PBB sangat "mencemaskan" nasib ribuan warga sipil yang melarikan diri dari kawasan-kawasan yang dikuasai ISIS di Baghouz di Provinsi Deir al-Zor setelah pertempuran sengit berlangsung, kata Jens Laerke, juru bicara Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA), dalam taklimat.

Laerke mengungkapkan, Kamp al-Hol, di Provinsi Hasaka, di bagian timur laut Suriah, sekarang menampung sedikitnya 45.000 orang, termasuk 13.000 orang yang meninggalkan Deir al-Zor pekan lalu.

"Banyak di antara mereka tiba dalam keadaan kelelahan, lapar dan sakit," ujar Laerke.

Menurut Laerke, sembilan di 10 orang itu adalah perempuan dan anak-anak. Mereka telah menempuh perjalanan yang jauh dan sangat melelahkan ke kamp tersebut.

"Sejauh ini berdasarkan laporan-laporan lebih 84 orang meninggal di perjalanan, di sepanjang wilayah itu. Dua pertiga di antara mereka yang telah meninggal ialah anak-anak di bawah usia lima tahun," kata Laerke.

Sebanyak 175 anak-anak dibawa ke rumah sakit karena menderita kurang gizi yang parah, kata Laerke, mengutip laporan-laporan dari badan-badan PBB dan kelompok-kelompok di lapangan.

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA