Friday, 22 Zulhijjah 1440 / 23 August 2019

Friday, 22 Zulhijjah 1440 / 23 August 2019

Mantan Presiden Sudan Akhirnya Muncul di Publik

Senin 17 Jun 2019 09:29 WIB

Red: Ani Nursalikah

Mantan presiden Sudan Omar al-Bashir terlihat pertama kali di publik sejak kudeta penggulingan dirinya April lalu, Ahad (16/6).

Mantan presiden Sudan Omar al-Bashir terlihat pertama kali di publik sejak kudeta penggulingan dirinya April lalu, Ahad (16/6).

Foto: Reuters
Mantan presiden Bashir dibawa ke kejaksaan dari penjara.

REPUBLIKA.CO.ID, KHARTOUM -- Mantan presiden Sudan Omar al-Bashir terlihat pertama kali di publik sejak kudeta penggulingan dirinya April lalu, Ahad (16/6). Bashir diantar dari penjara menuju kejaksaan untuk mendengar pembacaan tuduhan korupsi.

Baca Juga

Dilansir di BBC, Senin (17/6), dengan dikelilingi penjaga keamanan, pria 75 tahun tersebut tampak mengenakan jubah tradisional putih dan serban di kepala. Jaksa mengatakan timbunan mata uang asing ditemukan dalam karung gandum di rumah Bashir saat ia dikudeta.

Ia berjalan dengan cepat dari sebuah kendaraan ke kantor kejaksaan, tersenyum dan mengobrol dengan para penjaga. Namun, saat kembali beberapa menit ia muncul dengan wajah cemberut.

Bashir juga menjadi incaran Pengadilan Kejahatan Internasional (ICC). Ia diduga mengatur kejahatan perang dan kejahatan kemanusiaan di Darfur, Sudan. Ia menolak tuduhan tersebut.

Wakil Presiden militer Mohamed Hamdan "Hemeti" Dagolo berjanji mengadili kerusuhan mematikan baru-baru ini. Menurut aktivis oposisi, lebih dari 100 orang demonstran meninggal pada 3 Juni.

"Kami bekerja keras mencari mereka yang bertanggung jawab," katanya dalam pidato di televisi.

Hemeti membawahi Pasukan Pendukung Cepat (RSF) yang populer dengan nama Janjaweed. Kelompok ini dituduh melakukan pembunuhan bulan ini dan terkait kejahatan saat konflik Darfur.

Otoritas militer Sudan menghadapi kecaman keras internasional setelah tindakan keras awal bulan ini. Sudan juga telah diskors dari Uni Afrika.

Pada Jumat setelah kunjungan ke Khartoum, Asisten Menteri Luar Negeri AS untuk Afrika, Tibor Nagy, menyerukan penyelidikan yang kredibel dan independen terhadap pembunuhan tersebut. Pembicaraan antara para pengunjuk rasa dan Dewan Transisi Militer (TMC) buntu setelah kekerasan.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA