REPUBLIKA.CO.ID,TRIPOLI--Pemimpin Libya Moamer Qaddafi memperingatkan, Kamis, Barat telah memulai sesuatu di Libya yang tidak bisa mereka kendalikan, kata kantor berita resmi JANA. "Mereka telah memulai sesuatu yang berbahaya, sesuatu yang tidak bisa mereka kendalikan. Sesuatu itu akan berada di luar kendali mereka, meski mereka menggunakan metode penghancur apa pun yang mereka miliki," kata Qaddafi.
Ia menunjuk pada koalisi Barat yang dipimpin Inggris, Prancis dan AS, yang meluncurkan operasi militer terhadap Libya pada 19 Maret untuk menegakkan zona larangan terbang PBB dan melindungi penduduk sipil. Qaddafi mengatakan, "Para pemimpin yang memutuskan meluncurkan Perang Salib kedua antara umat Kristen dan Islam di Laut Tengah" harus mengundurkan diri.
Ia menuduh pemimpin-pemimpin itu menyebabkan kematian dan kehancuran dan mengatakan, "Mereka lah yang dihinggapi kegilaan." Mereka ingin menerapkan kekuatan mereka dan menghancurkan kepentingan timbal-balik antara rakyat Libya dan rakyat mereka sendiri... Mereka ingin menyeret kami kembali ke zaman pertengahan," kata JANA mengutip Qaddafi.
"Penyelesaiannya adalah mereka harus segera mengundurkan diri dan rakyat mereka mencari pemimpin baru pengganti mereka yang akan menghormati hubungan antara bangsa-bangsa," tambah pemimpin Libya itu. Sejumlah pemimpin Barat mendesak Qaddafi, yang berkuasa selama lebih dari empat dasawarsa, mengundurkan diri di tengah pemberontakan mematikan terhadap pemerintahnya.
Libya kini digempur pasukan internasional sesuai dengan mandat PBB yang disahkan pada Kamis lalu (17/3).
Resolusi 1973 DK PBB disahkan ketika kekerasan dikabarkan terus berlangsung di Libya dengan laporan-laporan mengenai serangan udara oleh pasukan Moamer Qaddafi, yang membuat marah Barat. Selama beberapa waktu hampir seluruh wilayah negara Afrika utara itu terlepas dari kendali Kadhafi setelah pemberontakan rakyat meletus di kota pelabuhan Benghazi pada pertengahan Februari. Namun, kini pasukan Kadhafi dikabarkan telah berhasil menguasai lagi daerah-daerah tersebut.
Ratusan orang tewas dalam penumpasan brutal oleh pasukan pemerintah dan ribuan warga asing bergegas meninggalkan Libya pada pekan pertama pemberontakan itu. Qaddafi (68) adalah pemimpin terlama di dunia Arab dan telah berkuasa selama empat dasawarsa. Qaddafi bersikeras akan tetap berkuasa meski ia ditentang banyak pihak. Aktivis pro-demokrasi di sejumlah negara Arab, termasuk Libya, terinspirasi oleh pemberontakan di Tunisia dan Mesir yang berhasil menumbangkan pemerintah yang telah berkuasa puluhan tahun.