REPUBLIKA.CO.ID, TRIPOLI--Desakan barat yang meminta agar pemimpin Libya, Moammar Qadafi segera meletakkan jabatannya, dinilai sebagai permintaan yang 'menyinggung perasaan' seluruh warga Libya.
Penilaian itu disampaikan putri Qadafi, Aisha Qadafi, Jumat (14/4) di hadapan para pendukung Qadafi yang berkumpul di Bab Al-Aziziyah, markas besar Qadafi. Qadafi saat ini bukan berada di Libya, tapi berada di dalam hati rakyat Libya. ''Tahun 1911, Italia telah membunuh kakek saya dan kini mereka mencoba untuk membunuh ayah saya. Terkutuklah mereka,'' kata Aisha.
Pidato Aisha itu terkait dengan perayaan 25 tahun serangan militer AS terhadap kompleks markas Qadafi yang didalamnya terdapat barak militer. Aisha yang dalam pidto itu mengenakan kain penutup kepala dan jaket warna hitam, mengaku saat insiden penyerangan AS itu, dirinya baru berusia lima tahun. ''Mereka mencoba membunuh saya dan membunuh lusinan anak di Libya,'' katanya.
Bebebrapa jam sebelum menyampaikan pidatonya, Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) telah melakukan serangan ke Tripoli. Dalam sebuah pertemuan di Doha, Rabu kemarin, sejumlah negara Arab dan kelompok barat menyerukan Qadafi agar meletakkan jabatannya.