Kamis 07 Jul 2011 07:07 WIB

Alqaidah Dalangi Dua Serangan di Irak

REPUBLIKA.CO.ID,BAGHDAD--Cabang Al-Qaidah Irak mengklaim bertanggung jawab atas dua serangan di Irak yang menewaskan sedikitnya 30 orang pada Juni, kata kelompok yang mengamati komunikasi gerilyawan.Negara Islam Irak (ISI) menyatakan mendalangi dua serangan bom pada 21 Juni yang menewaskan sedikitnya 25 orang di sebuah pos pemeriksaan di luar rumah gubernur Diwaniya, kata Kelompok Intelijen SITE yang berkantor di AS, Rabu.

ISI, kelompok yang memayungi gerilyawan yang terkait dengan Al-Qaidah, juga mengklaim bertanggung jawab atas serangan bom bunuh diri pada 13 Juni terhadap satuan polisi di Basra, dalam sebuah pernyataan yang diterbitkan di situs-situs jihad Selasa, kata SITE. Lima orang tewas dan lima lain cedera dalam serangan di kota minyak di Irak selatan itu.

Al-Qaidah melemah akibat kematian para pemimpinnya, dan jumlah serta wilayah yang mereka mainkan juga menyusut sejak 2006-2007. Namun, kelompok itu masih melancarkan serangan-serangan yang bertujuan menarik perhatian dan mengacaukan penduduk pada masa ketika para pemimpin Irak berdebat mengenai apakah meminta AS tetap menempatkan sejumlah pasukan setelah Desember.

Ratusan orang tewas dalam gelombang kekerasan terakhir di Irak, termasuk sejumlah besar polisi Irak, beberapa bulan menjelang penarikan penuh pasukan AS dari negara itu. Juni merupakan bulan paling mematikan sepanjang tahun ini, dimana 271 orang Irak dan 14 prajurit AS tewas dalam serangan-serangan.

Sebanyak 211 orang tewas dalam kekerasan pada April, menurut data resmi, sementara pada Mei jumlah orang Irak yang tewas dalam kekerasan mencapai 177. Meski kekerasan tidak seperti pada 2006-2007 ketika konflik sektarian berkobar mengiringi kekerasan anti-AS, sekitar 300 orang tewas setiap bulan pada 2010, dan Juli merupakan tahun paling mematikan sejak Mei 2008.

Militer AS menyelesaikan penarikan pasukan secara besar-besaran pada akhir Agustus 2010, yang diumumkannya sebagai akhir dari misi tempur di Irak, dan setelah penarikan itu jumlah prajurit AS di Irak menjadi sekitar 50.000. Sisa pasukan AS itu akan ditarik sepenuhnya pada akhir tahun ini.

Penarikan brigade tempur terakhir AS dipuji sebagai momen simbolis bagi keberadaan kontroversial AS di Irak, lebih dari tujuh tahun setelah invasi untuk mendongkel Saddam.

Namun, pasukan AS terus melakukan operasi gabungan dengan pasukan Irak dan gerilyawan Kurdi Peshmerga di provinsi-provinsi Diyala, Nineveh dan Kirkuk dengan pengaturan keamanan bersama di luar misi reguler militer AS di Irak.

Rangkaian serangan dan pemboman sejak pasukan AS ditarik dari kota-kota di Irak pada akhir Juni 2009 telah menimbulkan pertanyaan mengenai kemampuan pasukan keamanan Irak untuk melindungi penduduk dari serangan-serangan gerilya seperti kelompok militan Sunni Al-Qaidah.

Gerilyawan yang terkait dengan Al-Qaidah kini tampaknya menantang prajurit dan polisi Irak ketika AS mengurangi jumlah pasukan menjadi 50.000 prajurit pada 1 September 2010, dari sekitar 170.000 pada puncaknya tiga tahun lalu.

sumber : antara/AFP
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement