REPUBLIKA.CO.ID, SANTIAGO DE COMPOSTELA -- Kecelakaan kereta api di pinggiran Kota Santiago De Compostela, Spanyol, yang menewaskan 56 orang, mengundang rakyat Negeri Matador itu berbondong-bondong mendonorkan darah. Tak pelak, klinik-klinik di kota tersebut kewalahan melayani pendonor.
Rasa empati juga datang dari para pengusaha yang memberikan kamar gratis bagi keluarga korban yang mendatangi lokasi kejadian. Pemerintah di Madrid telah mengirimkan petugas kesehatan dan tim forensik dengan mencarter pesawat.
Kepala wilayah Galicia, Alberto Nunez Feijoo, mengatakan 56 orang tewas, 70 orang luka, dan 20 di antaranya luka berat. Kereta tersebut berangkat dari Madrid dengan tujuan Kota Ferrol sampai tergelincir di pantai Galician. ''Benar-benar membuat shock, itu Dante-esque," tutur dia dalam wawancara sebuah radio.
Dante esque adalah istilah yang mengacu pada karya sastra, Dante Alleghieri, Devine Comedy. Devine Comedy menceritakan tentang siksaan dan kondisi neraka serta tujuh dosa besar. Namun dua pekan sebelumnya sebuah kereta di Prancis Tengah keluar jalur dan menyebabkan enam orang tewas. Sementara itu menurut operator kereta di Perancis (SNCF) kejadian ini hanya kecelakaan semata.
Sumber dari Pemerintah Spanyol menyatakan belum ada pernyataan resmi sampai kotak hitam kereta ditemukan dan diperiksa. Namun, tampaknya kejadian ini lebih kepada kecelakaan saja. ''Kami tak berpikir ini sabotase atau serangan,'' ucap dia.
Kecelakaan ini menjadi salah satu tragedi kereta terburuk di Eropa sepanjang 25 tahun terakhir. Pada november 2000, 155 orang tewas, di Austria dalam tragedi kebakaran kereta di terowongan.
Sementara di Montenegro, 46 orang tewas dan 200 orang luka-luka di 2006, akibat kereta tergelincir dan masuk jurang di pinggiran ibukota, Podgorica. Di tahun yang sama, kejadian di Spanyol sendiri 41 orang tewas ketika kereta bawah tanah tergelincir tepat sebelum memasuki stasiun metro Jesus di Valencia.