Jumat 09 May 2014 08:18 WIB

Pemberontak dan Pemerintah Sudan Selatan Mulai Dialog

Rep: Dessy Suciati Saputri/ Red: Bilal Ramadhan
Sudan dan Sudan selatan
Sudan dan Sudan selatan

REPUBLIKA.CO.ID, ADDIS ABABA-- Pembicaraan antara pemimpin pemberontak dan pemerintah Sudan Selatan telah dimulai. Pertemuan ini merupakan pembicaraan langsung pertama kedua belah pihak untuk meredakan konflik di Sudan Selatan.

Aljazeerah melaporkan, Amerika Serikat menyatakan tak terlalu optimis pembicaraan ini akan segera meraih kesepakatan. "Saya tak yakin kedua belah pihak akan mencapai kesepakatan begitu saja," kata Duta Besar AS untuk Sudan Selatan Susan Page.

"Tetapi jika mereka mencapai kesepakatan bagaimana menghentikan konflik, maka akan menjadi langkah yang maju," lanjutnya.

Page mengatakan warga Sudan Selatan sangat menginginkan perdamaian di negara tersebut.Konflik politik yang bergeser menjadi konflik etnis ini telah menyebabkan ribuan orang tewas dan jutaan lainnya mengungsi. Menteri Luar Negeri Norwegia Borge Brende mengatakan pembicaraan antara Kiir dan Machar ini meliputi pemerintah transisi.

PBB pun menyalahkah kedua belah pihak atas kriminalitas kemanusian yang terjadi di negara itu, termasuk pembunuhan massal dan pemerkosaan. "Meluas dan sistematik. Pembunuhan terjadi di mana saja, di rumah, di rumah sakit, masjid, gereja," kata pernyataan PBB. PBB pun mendesak pihak-pihak yang terlibat bertanggung jawab.

Diperkirakan sekitar lima juta warga Sudan Selatan membutuhkan bantuan akibat konflik ini. Sebelumnya, sebuah perjanjian juga telah ditelah disepakati oleh kedua belah pihak pada Januari. Namun, kesepakatan ini gagal mengakhiri kekerasan di negara tersebut.

Sementara itu, mediator perdamaian di Ethiopia membenarkan Machar telah tiba di Ethiopia pada Kamis untuk menggelar pembicaraan di Addis Ababa.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement