Rabu 17 Sep 2014 15:28 WIB

Persaingan Ketat Menjelang Referendum Kemerdekaan Skotlandia

Rep: Gita Amanda/ Red: Julkifli Marbun
Skotlandia
Foto: Reuters
Skotlandia

REPUBLIKA.CO.ID, GLASGOW -- Kedua kubu di Skotlandia menghadapi hari terakhir kampanye, menjelang pemungutan suara untuk referendum kemerdekaan yang akan digelar Kamis (18/9). Di detik-detik terakhir, jajak pendapat menunjukkan kedua pihak masih bersaing sangat ketat.

Tiga lembaga survei baru-baru ini melakukan jajak pendapat terkait nasib Inggris. Dari hasil survei ICM, Opinium dan Survation menunjukkan, 48 persen warga Skotlandia mendukung kemerdekaan. Sementara 52 persen lainnya memilih tetap bergabung dengan Inggris.

Namun jajak pendapat juga menemukan, 8 hingga 14 persen dari 4,3 juta pemilih Skotlandia masih ragu-ragu. Padahal jajak pendapat terbuka rencananya akan digelar Kamis, pukul 06.00 waktu setempat.

Ketiga jajak pendapat menunjukkan nasionalis meraih kemenangan. Tapi kenyataan bahwa pendukung serikat berada di urutan atas dalam jajak pendapat. Ini mendorong investor untuk membeli poundsterling, memperpanjang kenaikan poundsterling terhadap dolar AS.

Profesor politik di Universitas Strathclyde dan salah satu petinggi lembaga survei Skotlandia, John Curtice, mengatakan kondisi saat ini sangat ketat. "Pada saat itu tampak seolah-olah kampanye 'ya' akan kalah dari sudut pandang mereka. Tapi saya selalu mengatakan hal ini, kampanye 'tidak'  juga bisa kalah," katanya.

Dalam menghadapi ancaman internal terbesar Inggris, sejak kemerdekaan Irlandia, Perdana Menteri David Cameron dan bintang sepak bola David Beckham bersatu dalam upaya memohon Skotlandia untuk tetap bersama Inggris.

Untuk menumpulkan argumen pemimpin nasionalis Alex Salmond yang ingin Skotlandia melepaskan diri, penguasa Inggris berjanji untuk menjamin keuangan Skotlandia. Mereka juga menjanjikan hibah kontrol yang lebih besar atas keuangan Skotlandia.

Cameron memperingatkan dalam kunjungan terakhirnya ke Skotlandia, bahwa tak akan ada kata kembali. Perpisahan apa pun menurut Cameron bisa menyakitkan.

Suara Cameron terdengar bergetar dengan emosi saat menyatakan hal tersebut. Ia bahkan mengambil langkah luar biasa, menyatakan pada warga Skotlandia jika mereka tak menyukainya maka ia akan mundur. Ia berjanji tak akan menjadi perdana menteri selama-lamanya, jika itu bisa membuat Skotlandia tak memisahkan diri.

Tapi pemimpin nasionalis Salmond menghentikan tawaran Cameron. Ia mengatakan, saat nanti Cameron kembali mengunjungi Skotlandia akan menegosiasikan 1.707 syarat pemisahan diri.

"Ini sebenarnya merupakan penghinaan terhadap kecerdasan rakyat Skotlandia untuk pengulangan proposal ini di saat terakhir kampanye dan berharap melampaui harapan orang yang berpikir ini adalah sesuatu yang substansial. Ini tidak," kata pemimpin berusia 59 tahun itu.

Jika Skotlandia memilih kemerdekaan, Inggris dan Skotlandia akan menghadapi 18 bulan negosiasi atas segala hal. Mulai dari masalah minyak di Laut Utara dan pound untuk keanggotaan Uni Eropa, serta pangkalan kapal selam nuklir utama Inggris.

Prospek memecah serikat, kekuatan ekonomi terbesar keenam di dunia dan anggota tetap pemegang hak veto Dewan Keamanan PBB, mendorong warga negara dan sekutu untuk merenungkan hal ini.

Gedung Putih mengatakan, lebih memilih Inggris tetap kuat dan bersatu. Novelis terkenal Inggris Martin Amis mengatakan, pemisahaan diri akan menjadi lompatan ke kegelapan.

"Apa yang akan tersisa jika Skotlandia merdeka, negara akan sangat kekurangan," kata Amis, yang novel-novelnya kerap menjelajahi sisi gelap kehidupan Inggris.

Selain dari masalah keuangan dan geopolitik dari sesi pemisahan diri, pertempuran antar pemilih memasuki masa puncaknya di hari-hari terakhir. Beberapa jajak pendapat lain akan dirilis pada Rabu.

Pemilih akan diminta untuk menjawab 'ya' atau 'tidak. Pertanyaannya adalah haruskah Skotlandia menjadi negara merdeka?

Nasionalis mengatakan, Skotlandia independen akan dapat membangun sebuah negara kaya dan lebih adil. Pemilihan memasuki babak persaingan sejarah, menentang selera politik dan persepsi bahwa Inggris menyalahgunakan Skotlandia selama beberapa dekade.

Serikat pekerja mengatakan, kemerdekaan aka sia-sia. Ini akan mengantar Skotlandia pada ketidakpastian keuangan, ekonomi, dan politik. Mereka telah memperingatkan bahwa Skotlandia tak akan menjaga pound sebagai mata uang resmi.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement