Rabu 16 Dec 2015 22:54 WIB

Pengadilan Koroner Victoria Terima Temuan Belanda Ihwal Tragedi MH17

Red:
Victorian Marco Grippeling merupakan satu dari 17 warga Victoria yang menjadi korban dalam tragedi MH17
Foto: AAP
Victorian Marco Grippeling merupakan satu dari 17 warga Victoria yang menjadi korban dalam tragedi MH17

REPUBLIKA.CO.ID, VICTORIA -- Pengadilan Koroner Victoria akhirnya memutuskan menerima hasil temuan dari Badan Keselamatan Belanda mengenai jatuhnya pesawat Malaysia Airlines MH17 pada 22 Juli 2014 silam.

Sebanyak 38 orang warga Australia menjadi bagian dari 298 orang yang tewas ketika pesawat MH17 yang sedang dalam perjalanan menuju Kuala Lumpur, ditembak jatuh di atas wilayah Ukraina dan tidak ada satupun yang selamat.
 
Deputi Koroner Victoria, Iain West mengatakan ia tidak dapat membuat temuan mengenai pihak lain yang dapat menyebabkan kematian terhadap ke-17 orang khususnya warga Victoria.  Dia mencatat bahwa penyelidikan kriminal mengenai kecelakaan pesawat MH17 masih sedang berlangsung. Temuan lainnya, "tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa jenazah para korban diperlakukan tidak terhormat dan bermartabat".
 
Dewan Keselamatan Belanda menemukan pesawat MH17 jatuh sebagai akibat dari ledakan misil di sebelah kiri kokpit pesawat. "Saya menerima dan mengadopsi temuan Badan Keselamatan Belanda," kata Iain West baru-baru ini.
 
"Kondisi disekitar kematian penumpang dan kru pesawat MH17 memiliki dampak yang mendalam pada orang-orang yang mengenal dan mencintai mereka ... terutama karena sangat jelas bahwa pesawat itu ditembak jatuh. "
 
Penyebab kematian bagi korban yang berasal dari Victoria telah didaftarkan sebagai "cedera berkelanjutan di ketinggian akibat gangguan pesawat."
 
Dalam masukannya terhadap pemeriksaan ini, Angela Nagel, istri migran Belanda Marco Grippeling, menggambarkan jatuhnya pesawat MH17 sebagai "tindakan perang".
 
Wanita kelahiran Malaysia Shaliza Zain Dewa, 45, dan suaminya kelahiran Belanda Johannes van den Hende dan ketiga anak mereka, Piers, Marnix dan Margaux juga di antara mereka yang tewas.
 
Dalam pernyataan tertulisnya sanak saudara mereka mengatakan keluarga tersebut menjalani kehidupan yang paling bahagia dalam kehidupan mereka sejak menetap  Victoria,
 
James Rizk bepergian dengan pamannya ke Belanda untuk mengumpulkan tubuh ayahnya, Albert Rizk.
 
Dia mengatakan kepada Pengadilan Koroner kalau mengembalikan ayahnya ke Australia telah menghadirkan semacam penutup, tapi dia tetap menghendaki pihak yang bertanggung jawab atas tragedi ini dihukum.
 
Penyelidikan kejahatan terpisah atas tragedi jatuhnya MH17 milik Malaysia Airlines ini masih berlangsung dan dipimpin oleh Belanda dengan melibatkan Malaysia, Australia, Ukraina dan Belgia.

Disclaimer: Berita ini merupakan kerja sama Republika.co.id dengan ABC News (Australian Broadcasting Corporation). Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi berita menjadi tanggung jawab ABC News (Australian Broadcasting Corporation).
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement