REPUBLIKA.CO.ID, PARIS -- Presiden Prancis, Francois Hollande, meresmikan plakat bagi para korban serangan jihadis Januari tahun lalu di Paris sementara peringatan satu tahun dimulai. Tujuh belas orang tewas dalam serangan selama tiga hari yang menjadikan majalah Charlie Hebdo, polisi, dan toko Yahudi sebagai sasaran.
Janda polisi yang terbunuh, Ingrid Brinsolaro, menuntut terkait dugaan kegagalan pihak keamanan. Brinsolaro mengatakan ancaman terhadap Charlie Hebdo tidak ditanggapi dengan cukup serius.
Seperti dilansir laman BBC News, Plakat pertama dibuka pada hari Selasa (5/1) di luar bekas kantor Charlie Hebdo, di mana 12 orang ditembak mati. Meskipun demikian plakat segera ditutup karena orang-orang yang hadir terkejut terkait dengan kesalahan penulisan nama salah seorang korban, Georges Wolinski, yang dituliskan dengan huruf Y.
Hollande ikut serta dalam upacara lainnya untuk polisi yang dibunuh saat mengejar penyerang Charlie Hebdo dan pada toko serba ada Yahudi di Paris timur, di mana empat orang tewas.
Majalah Charlie Hebdo pernah menerbitkan kartun Nabi Muhammad, yang memicu kemarahan umat Islam, namun juga menurunkan satire bertema agama lain.