Kamis 03 Nov 2016 03:00 WIB

Washington Kabulkan Aturan Suntik Mati

Rep: Fuji Pratiwi/ Red: Bilal Ramadhan
Euthanasia (Ilustrasi)
Euthanasia (Ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Dewan Kota Washington meloloskan aturan yang mengizinkan pasien dengan penyakit terminal untuk melakukan euthanasia atau suntik mati secara medis.

Aturan ini menjadikan Washington sebagai negara bagian AS ke enam yang membolehkan apa yang di sana sering disebut bunuh diri dengan bantuan dokter. Aturan ini, kata salah seorang anggota Dewan Kota, Mary Cheh, memungkinkan pasien meninggal dengan cara yang tenang.

''Aturan ini akan berlaku legal bagi pasien yang sudah sakit enam bulan atau kurang dari itu dan memiliki kemungkinan hidup sangat kecil, tidak menderita depresi dan sudah mengajukan permintaan euthanasia berkali-kali,'' kata Cheh seperti dikutip Religion News Service, Selasa (1/11).

Untuk membantah mereka yang secara sadar memilih untuk memperpanjang proses kematian, memperpanjang penderitaan, merampas otonomi seseorang, dan dalam beberapa kasus memaksakan satu nilai moral atau pilihan agama tertentu kepada pasien, Dewan Kota akan memutuskannya melalui pemungutan suara 11-2. Cheh sendiri menilai kekhawatiran akan penyalahgunaan aturan ini sangat tidak mendasar.

Perdebatan soal euthanasia ini sempat menuai perbedaan pendapat soal nilai moral di AS. Banyak kelompok agama meyakini kematian adalah kuasa Yang Maha Kuasa dan praktik euthanasia merupakan dosa.

Sebagian pihak juga mengkhawatirkan bahwa manula, kaum difabel, dan warga miskin bisa ditekan untuk menyetujui untuk menempuh cara kematian prematur ini.

Perwakilan Afrika-Amerika sendiri juga mengkhawatirkan hal serupa. Beberapa anggota Dewan Kota berdarah Afrika-Amerika juga mengusulkan agar pemungutan suara melibatkan keluarga pasien.

Anggota Dewan Kota, Yvette Alexander, yang menolak pengesahan aturan ini memang tak menghiraukan nilai moral dan agama karena ia menganggap itu subjektif. Namun, ia khawatir jika euthanasia tidak bisa dimonitor dan akan menimbulkan persoalan antara tenaga medis dengan masyarakat.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement