REPUBLIKA.CO.ID, PERTH -- Maddison Ugle, seorang perempuan Aborigin berusia 18 tahun, bertekad menjadikan kariernya di Kepolisian Australia Barat menonjol dan menjadi teladan bagi komunitasnya.
Ugle yang berasal dari Bunbury, merupakan satu dari 25 anak muda yang mendaftarkan diri pada menjadi kadet polisi dari kalangan Aborigin. Program ini dilaksanakan di Akademi Kepolisian Australia Barat.
"Saya ingin menjadi berbeda, ingin menunjukkan kepada masyarakat saya bisa menjadi panutan positif. Saya besar di lingkungan sekitar narkoba dan alkohol, melihat banyak hal, terpengaruh olehnya, Anda pun cenderung mengikutinya," kata Ugle.
"Mudah sekali terjatuh ke pola seperti itu. Saya hanya ingin menghentikan siklus tersebut," tambahnya.
Ugle yang juga pemain footy berbakat, pindah ke Perth bersama saudaranya dua tahun lalu sebelum menyadari karier di kepolisian merupakan panggilan hidupnya. "Setiap hari akan berbeda. Saya masuk kerja tanpa tahu apa yang akan dihadapi," kata Ugle.
"Hal itu merupakan daya tarik sendiri," katanya.
Ugle diterima dalam Aboriginal Cadet Program angkatan pertama pada November lalu. Ugle terdorong mengejar karier sebagai polisi bukan hanya karena kegembiraan yang ditawarkan pekerjaan itu, tapi pemikiran dia bisa membuat perbedaan.
"Fakta saya telah menjalani yang saya jalani dan menempuh langkah yang tepat, membuatku merasa bisa mempengaruhi masyarakat dan menjadi panutan positif," kata Ugle.
"Bagi masyarakat pribumi penting untuk melihat bahwa orang-orang seperti kami bekerja dan mungkin untuk mengatasi kesulitan sendiri dan membuat pengaruh," ujarnya.
Sersan Steve Holmes yang menjalankan program kadet ini menjelaskan tujuan yang ingin dicapai adalah mengatasi "kurangnya petugas kepolisian Aborigin dan Torres Strait Islander" di Australia Barat. "Hal ini menyangkut komunitas," kata Sersan Holmes.
"[Para kadet] diterjunkan ke komunitas mereka sendiri membantu meningkatkan komunikasi dan ikatan antara polisi dan komunitas Aborigin," katanya.
"Ada sejumlah anak muda dalam program ini dengan latar belakang yang kurang mampu. Mereka menghadapi sejumlah tantangan nyata dalam kehidupan mereka sendiri dan menggunakannya sebagai alat bantu pembelajaran mereka," jelasnya.
Progran kadet selama dua tahun itu memberi peluang untuk merasakan bagaimana kehidupan sebagai anggota polisi, mulai dari tugas di kantor hingga berpatroli dan kegiatan kebugaran. "Ini hanya langkah awal yang sejauh ini sudah bagus. Saya merasa bangga," katanya.
Ugle berharap program kadet - yang membukan banyak jalan menjadi anggota kepolisian - akan menjadi jalan baginya untuk diterima dalam program rekrutmen enam bulan yang bisa membuatnya memenuhi syarat sebagai anggota polisi.
Diterbitkan Selasa 2 Mei 2017 oleh Farid M. Ibrahim dari artikel berbahasa Inggris di ABC News.


