Ahad 11 Jun 2017 22:51 WIB

Pengakuan WNI di Qatar: Kami Baik-Baik Saja

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Maman Sudiaman
Warga Qatar menikmati berjalan-jalan di pinggir laut di Doha.
Foto: AP Photo/Kamran Jebreili
Warga Qatar menikmati berjalan-jalan di pinggir laut di Doha.

REPUBLIKA.CO.ID, DOHA -- Kondisi warga negara Indonesia (WNI) yang berada di Qatar sempat dikhawatirkan menyusul terjadinya krisis diplomatik antara sejumlah negara Teluk dengan negara ini. Hal ini karena beberapa negara  Arab, yakni Mesir, Arab Saudi, Bahrain, Yaman, dan Uni Emirat Arab memutuskan hubungan diplomatik dan menerapkan blokade ekonomi.  Termasuk penghentian impor bahan makanan ke Qatar.

Indria Ernaningsih, WNI yang sejak 2002 hingga sekarang tinggal di Qatar, tepatnya di daerah Bin Mahmood, Doha, mengatakan, secara umum, kondisi di Qatar saat ini, khususnya di Doha, masih cukup kondusif. “Kami sampai sekitar sepekan setelah blokade, baik lokal maupun ekspatriat, baik-baik saja. Aktivitas sehari-hari normal, bahkan kebutuhan (pangan) di supermarket tetap tersedia. Insya Allah masih kondusif,” ungkapnya ketika dihubungi Republika, Ahad (11/6).

Kendati demikian, ketika diumumkan adanya blokade beberapa negara Teluk pada Senin (5/6), warga Qatar, kata Ernaningsih, memang sempat panik. “Ada sedikit kepanikan di beberapa supermarket besar, tapi tidak sampai kemudian shortage (kekurangan makanan),” katanya.

Ia menerangkan bawa isu adanya kelangkaan pangan akibat blokade oleh beberapa negara Arab, sejauh ini, belum terjadi. “Dari beberapa supermarket yang saya kunjungi, kondisinya tidak berbeda dengan sehari sebelum (pemberitaan) krisis ini mencuat. Ketersediaan bahan-bahan pangan mencukupi layaknya hari-hari sebelumnya dan harga juga tidak mengalami kenaikan,” ucap Ernaningsih.

Sektor perbankan, lanjutnya menerangkan, yang biasanya rentan dan diserbu warga ketika terjadi krisis, sampai saat ini  juga masih cukup tenang. Tidak ada antrean yang membludak, baik di bank maupun mesin-mesin ATM. “Kepercayaan masyarakat tetap tinggi, yang ini bisa menjadi indikator kesehatan ekonomi suatu negara,” katanya.

Kendati demikian, Ernaningsih tetap menjalin komunikasi dan kontak dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Qatar. “Pesan dari Pak Duta Besar, yakni Muhammad Basri Sidehabi, semua WNI diharapkan tenang. Beliau juga selalu memperbarui info terkini (terkait kondisi krisis Qatar),” ujarnya.

Keterangan Ernaningsih dikonfirmasi oleh WNI lainnya, yakni Bidin Bachrul Ulumuddin yang tinggal di Al Gharaffa, Doha. Sama seperti Ernaningsih, Bidin telah tinggal di Qatar sejak 2002. Ia bekerja sebagai senior Petroleum Engineer di Qatar Petroleum.

Menurut Bidin, hingga saat ini, suplai makanan di Doha masih mencukupi. “Hanya di awal saja ada kepanikan di beberapa supermarket. Orang-orang berbelanja makanan untuk mengantisipasi (kelangkaan makanan). Hari selanjutnya, masyarakat di sini tenang kembali,” katanya.

Ia sendiri mengetahui bahwa negara-negara Arab, khususnya Arab Saudi, menghentikan pasokan makanan ke Qatar. “Tapi sekarang pemerintah Turki membantu suplai bahan makanan agar tidak terjadi kelangkaan,” ujar Bidin.

Bidin yang juga pengurus ICMI di Qatar ini tidak membenarkan info terkait adanya pemberlakuan jam malam oleh pemerintah Qatar. “Tidak betul. Di sini belum ada rumor tentang pemberlakuan jam malam,” ungkap Bidin.

Bidin mengatakan bahwa saat ini WNI di sana terus menjalin komunikasi dan kontak dengan KBRI. “Oleh KBRI kita diminta untuk tetap waspada dan mengikuti setiap perkembangan yang ada,” ujarnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement