Sabtu 14 Oct 2017 06:06 WIB

Turki Tahan 115 Orang Diduga Terlibat Kudeta

Wanita menangisi jenazah warga Turki yang tewas akibat upaya kudeta.
Foto: Reuters
Wanita menangisi jenazah warga Turki yang tewas akibat upaya kudeta.

REPUBLIKA.CO.ID, ANKARA -- Pihak berwenang Turki mengeluarkan perintah penahanan untuk 115 orang di 15 provinsi atas dugaan keterlibatan mereka dalam percobaan kudeta gagal tahun lalu, kata kantor berita Anadolu pada Jumat (13/10). Operasi tersebut bertujuan untuk menghancurkan "penataan keuangan" jaringan Fethullah Gulen yang bermarkas di Amerika Serikat, kata Anadolu.

Ankara menuduh Gulen, yang tinggal dalam pengasingan di AS sejak 1999, sebagai dalang dalam percobaan kudeta 15 Juli 2016. Namun Gulen membantah terlibat dalam peristiwa tersebut. Pada Kamis, pihak berwenang Turki juga mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk 25 tentara di Turki dan Siprus utara, menurut sumber keamanan, sebagai bagian dari perluasan tindakan keras.

Para prajurit, yang bertugas aktif dan beranggotakan dari beragam unsur militer Turki, sedang dalam pencarian di 13 provinsi Turki dan Siprus utara, kata sumber tersebut. Jaksa di provinsi Mardin memerintahkan penangkapan terhadap sejumlah tentara atas "penataan militer rahasia" jaringan ulama Fethullah Gulen, tambah sumber tersebut.

Sejak kudeta gagal tahun lalu, lebih dari 50.000 orang dipenjara dan sedang menunggu persidangan atas keterkaitannya dengan jaringan Gulen, sementara 150.000 orang telah dipecat atau dicopot dari pekerjaan mereka di bidang militer, pelayanan umum dan swasta.

Kelompok hak asasi dan beberapa sekutu Barat Turki menyuarakan keprihatinannya terhadap tindakan keras tersebut, karena khawatir pemerintah memanfaatkan kudeta sebagai dalih untuk memberengus perbedaan pendapat. Pemerintah berpendapat bahwa hanya upaya pembersihan semacam itu yang dapat menghilangkan ancaman jaringan Gulen, yang telah menyusup dalam banyak organisasi penting seperti militer, pengadilan dan sekolah.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement