Senin 04 Dec 2017 09:07 WIB

Presiden Afghanistan Minta Maaf Atas Ucapannya Soal Jilbab

Rep: Fira Nursya'bani/ Red: Nur Aini
Presiden Afganistan Mohammad Ashraf Ghani mencium anak pembawa bendera di halaman Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (5/4).
Foto: Antara/Rosa Panggabean
Presiden Afganistan Mohammad Ashraf Ghani mencium anak pembawa bendera di halaman Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (5/4).

REPUBLIKA.CO.ID,KABUL -- Presiden Afghanistan Ashraf Ghani meminta maaf kepada perempuan atas ucapan yang dia buat tentang jilbab tradisional. Pada awalnya, ia menanggapi isu yang mengatakan beberapa pejabat pemerintah Afghanistan memiliki hubungan dengan ISIS, Sabtu (2/12).

Ia kemudian meminta para kritikus yang menyebarkan tuduhan itu untuk memberikan bukti. Jika mereka tidak bisa membuktikannya, mereka layak mengenakan jilbab seperti perempuan.

Presiden Ghani mendapat tepuk tangan meriah dari penonton saat mengucapkan pernyataan itu. Namun sehari kemudian ia meminta maaf kepada semua perempuan Afghanistan yang merasa tersinggung mengatakan komentarnya telah disalahartikan.

"Presiden adalah advokat hak perempuan yang sangat menonjol dan telah mengambil sejumlah langkah untuk memperkuat dan mempertahankan posisi perempuan sejak masa jabatannya sebagai presiden Afghanistan," ujar pernyataan yang dikeluarkan oleh kantor presiden, dikutip BBC.

Menurut pernyataan itu, penggunaan kata "Cadar" oleh Ghani telah disalahartikan. Hal itu dianggap sebagai kata umum yang tidak pernah bertujuan untuk menyinggung perempuan yang sangat berharga di negara tersebut.

Komentar Ghani memancing reaksi dari masyarakat Afghanistan yang memandangnya telah bersikap seksis. Banyak yang percaya Ghani juga menunjukkan pandangan inferioritas terhadap perempuan.

Aktivis masyarakat sipil di media sosial meminta Presiden Ghani untuk meminta maaf atas komentarnya. Beberapa pejabat pemerintah, termasuk anggota parlemen perempuan, juga menunjukkan kemarahan.

Fawzia Koofi, seorang anggota parlemen wanita Afghanistan, mengatakan dia bangga memakai jilbabnya. Konteks yang penting adalah, Afghanistan merupakan negara mayoritas Muslim yang kebanyakan perempuannya mengenakan jilbab.

Free Women Writers, sebuah organisasi yang mendukung penulis wanita di Afghanistan, memberikan tanggapan atas komentar Ghani di Facebook. "Siapa yang bisa menjadi harapan bagi wanita Afghanistan saat presiden mereka bahkan menganggap wanita memalukan," kata organisasi tersebut.

Ghani yang dilantik sebagai Presiden Afghanistan pada 2014, telah berjanji akan menangani masalah korupsi sebagai prioritasnya. Sebelumnya dia adalah Menteri Keuangan Negara, akademisi di AS, dan bekerja untuk Bank Dunia.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement