Jumat 27 Apr 2018 13:02 WIB

Saudi Eksekusi 48 Orang dalam Empat Bulan Terakhir

HRW mengatakan Arab Saudi telah melakukan hampir 600 eksekusi sejak awal tahun 2014

Rep: Crystal Liestia Purnama/ Red: Nidia Zuraya
Seorang warga membawa bendera Arab Saudi (Ilustrasi)
Foto: REUTERS
Seorang warga membawa bendera Arab Saudi (Ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, RIYADH -- Arab Saudi telah mengeksekusi 48 orang selama empat bulan terakhir. Human Rights Watch (HRW) melaporkan setengah dari mereka didakwa narkoba tanpa kekerasan.

Kelompok hak asasi yang berbasis di Amerika Serikat (AS) itu mendesak kerajaan agar segera memperbaiki hukum peradilan yang terkenal tidak adil.

Menurut laporan the Guardian, Jumat (27/4), Arab Saudi memiliki salah satu tingkat eksekusi tertinggi di dunia. Mereka yang dieksekusi adalah tersangka yang dihukum karena terorisme, pembunuhan, pemerkosaan, perampokan bersenjata dan perdagangan narkoba menghadapi hukuman mati.

Baca juga, Puluhan Pangeran Saudi akan Dituntut Terkait Terorisme

Para pakar hak asasi telah berulang kali menyuarakan keprihatinan tentang keadilan pengadilan di kerajaan. Pemerintah mengatakan hukuman mati adalah efek jera untuk kejahatan lebih lanjut.

"Cukup buruk bahwa Arab Saudi mengeksekusi begitu banyak orang, tetapi banyak dari mereka tidak melakukan kejahatan kekerasan. Setiap rencana untuk membatasi eksekusi pelaku narkoba harus mencakup perbaikan pada sistem peradilan yang tidak menyediakan uji coba yang adil," kata direktur Timur Tengah HRW, Sarah Leah Whitson.

HRW mengatakan Arab Saudi telah melakukan hampir 600 eksekusi sejak awal tahun 2014. Lebih dari sepertiga dari mereka terlibat dalam kasus narkoba. Hampir 150 orang dihukum mati tahun lalu oleh kerajaan, di mana narapidana dipenggal kepalanya dengan menggunakan pedang.

Putra Mahkota Mohammad bin Salman, mengatakan dalam wawancara majalah Time bulan ini bahwa Arab Saudi akan mempertimbangkan untuk mengubah hukuman dalam kasus-kasus tertentu untuk dihukum penjara seumur hidup. Namun itu tidak termasuk pembunuhan yang menyebabkan kematian.

Bin Salman adalah pewaris takhta kerajaan yang akan menggantikan ayahnya. Pangeran tersebut sedang berusaha untuk melunakkan citra negaranya. Ia berusaha untuk melakukan diversifikasi ekonomi yang biasanya hanya bergantung pada minyak dan menarik investor internasional.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement