Selasa 04 Sep 2018 08:00 WIB

Ada Israel dalam Konflik Marawi di Filipina

Duterte mengucapkan terima kasih atas bantuan Israel.

Rep: Fergi Nadira/ Red: Teguh Firmansyah
Presiden Filipina Rodrigo Duterte.
Foto: AP Photo/Aaron Favila
Presiden Filipina Rodrigo Duterte.

REPUBLIKA.CO.ID, TEL AVIV -- Presiden Filipina Rodrigo Duterte memuji Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu untuk bantuannya dalam mengatasi pemberontakan di Marawi. Israel membantu Filipina dalam mengakhiri pengepungan selama lima bulan oleh pemberontak di selatan kota pada 2017 lalu.

Hal itu dikatakan Duterte pada Senin (3/9) waktu setempat di Tel Aviv dalam kunjungan pertamanya ke Israel di tengah kecaman terhadap catatan hak asasi manusia pempimpin Filipina itu. "Konflik Marawi di pulau Mindano dapat dimusnahkan jika bukan karena peralatan yang substansial dan krusial dari Israel," ujarnya.

Hal ini merupakan pertama kalinya Duterte mengakui bantuan Israel secara terbuka dalam mengakhiri pengepungan Marawi pada 2017 lalu. Menurutnya, bantuan dari Israel sangat penting dalam memenangkan perang di negeri sendiri.

"Pak Perdana Menteri, saya hanya bisa berterima kasih banyak kepada Anda terutama pada bantuan kritis Anda yang telah memperluas negara saya pada waktunya ketika kami sangat membutuhkannya," kata Duterte.

Baca juga, Pernah Buat Marah Orang Yahudi, Kini Duterte Kunjungi Israel.

Pengepungan Marawi terjadi antara Mei dan iOktober 2017. Para pejuang yang bersumpah setia kepada ISIS mengambil alih kota. Pertempuran menewaskan lebih dari 1.000 pemberontak, tentara dan warga sipil. Perang juga dan menelantarkan ratusan ribu penduduk.

Kunjungan pertama Duterte mengindikasikan kedua negara dalam damai dan terhindar dari konflik. "Kami berbagi semangat yang sama untuk perdamaian, kami berbagi semangat yang sama untuk manusia. Tetapi juga kami berbagi semangat yang sama untuk tidak membiarkan negara kami dihancurkan oleh mereka yang tidak tahu apa-apa selain membunuh dan menghancurkan," katanya.

Duterte sangat ingin meningkatkan kerja sama keamanan dengan Israel. Otoritas Zionis telah menjual ke Filipina sebanyak tiga sistem radar dan 100 kendaraan lapis baja. Manila kini mengincar kesepakatan pesawat dengan Israel.

Selain bertemu Netanyahu, Duterte mengunjungi pemakaman Yad Vashem Holocaust di Yerusalem. Kemudian, dia pergi ke sebuah monumen dalam memperingati penyelamatan orang Yahudi di Filipina selama Holokus.

Pada 1939, Presiden Manuel L Quezon mengeluarkan 10 ribu visa untuk orang Yahudi Eropa. Namun hanya sekitar 1.300 yang benar-benar masuk ke negara Asia Tenggara.

Netanyahu mencatat bagaimana Filipina mengambil para pengungsi yang melarikan diri dari Nazi. Filipina juga merupakan satu-satunya suara dari Asia untuk pembentukan negara Israel. Baru-baru ini, Filipina memilih abstain dalam suara PBB yang menegur keputusan Presiden AS Donald Trump untuk mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

"Kami ingat teman-teman kami dan persahabatan itu telah berkembang selama bertahun-tahun dan terutama selama beberapa tahun terakhir," kata Netanyahu kepada Duterte.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement