Wednesday, 17 Rabiul Akhir 1442 / 02 December 2020

Wednesday, 17 Rabiul Akhir 1442 / 02 December 2020

Pekerja Restoran Cepat Saji di Australia Sering Dilecehkan

Senin 10 Dec 2018 17:37 WIB

Red: Nur Aini

Pelayan restoran, ilustrasi

Pelayan restoran, ilustrasi

Kejadian pelecehan yang diterima pekerja restoran cepat saji sering tidak dilaporkan.

REPUBLIKA.CO.ID, CANBERRA -- Sebuah survei nasional terhadap pekerja makanan cepat saji telah mengungkap 87 persen dari mereka mengalami pelecehan dan agresi di tempat kerja.

Asosiasi Pekerja Toko, Distribusi dan Kolaborasi Australia (SDA) mengatakan bahwa pelanggan yang melecehkan pekerja makanan cepat saji harus dituntut "sepenuhnya secara hukum". Mereka telah meluncurkan iklan nasional baru berjudul "No One Deserves A Serve" (tak ada yang pantas mendapat pukulan) untuk membantu mengatasi apa yang digambarkan sebagai tingkat agresi terhadap pekerja yang mengkhawatirkan.

James Colangelo, 19 tahun, mengatakan ia telah diludahi, dilecehkan, dan telah menerima ancaman pembunuhan saat bekerja di sebuah waralaba makanan cepat saji di pusat kota Adelaide.

"Seringkali mereka tidak benar-benar melihat kami sebagai manusia, mereka melihat kami sebagai robot yang ada di sana untuk memberi mereka makanan dan itu berarti bahwa mereka merasa baik-baik saja untuk melecehkan kami," katanya.

"Beberapa kali saya memiliki pelanggan yang tidak puas dengan suhu kopi mereka dan ketika saya mengatakan kepada mereka bahwa kami sayangnya tak bisa mengubah suhu kopi mereka, mereka ... melemparkan itu [kembali] ke wajah saya.”

"Saya sudah mengalami orang-orang yang melempar makanan ke arah saya melalui jendela karena menunggu lama di drive-through ketika kami kekurangan staf."

Remaja itu juga mengatakan dia telah melihat rekan-rekan wanita mengalami perilaku "menjijikkan", dengan pelanggan membuat komentar seksual yang cabul dan agresif.

"Itu tak bisa diterima, kami manusia, kami bukan robot," katanya.

"Kami di sini untuk melakukan suatu pekerjaan dan kami hanya ingin menyelesaikan pekerjaan itu lalu pulang, aman, dan bahagia."

Ia mengatakan pelanggan juga mengancam akan memecatnya jika mereka tak mendapatkan keinginan mereka.

Kejadian tak dilaporkan

Asisten sekretaris SDA, Josh Peak, mengatakan, survei terhadap lebih dari 1.000 pekerja mengungkap masalah itu sekarang sudah tak terkendali.

"Ini tidak cukup baik, ini harus dihentikan dan kami mencoba mengirim pesan yang sangat jelas," katanya.

Peak mengatakan perusahaan memiliki tanggung jawab untuk menyediakan lingkungan kerja yang aman bagi staf mereka, tetapi banyak insiden tak dilaporkan kepada polisi.

"Ada perbedaan besar antara apa yang dilaporkan kepada kami melalui proses survei dan apa yang dilaporkan ke polisi, ada banyak kekurangan pelaporan," katanya.

"Pengusaha perlu menerapkan kebijakan, prosedur, dan pelatihan sehingga ketika perilaku semacam ini terjadi, hal itu dilaporkan ke polisi."

Serikat pekerja juga menyerukan keamanan yang lebih baik untuk para pekerja.

"Kami harus memastikan bahwa polisi mengambil langkah yang tepat untuk mengadili orang-orang itu sepenuhnya," katanya.

"Sangat penting bahwa kami mengirim pesan yang jelas kepada masyarakat bahwa staf ritel dan staf cepat saji tidak akan diperlakukan dengan cara khusus ini dan salah satu cara untuk melakukannya adalah memastikan bahwa ketika pelanggan melakukan hal yang salah maka mereka ditangkap dan diadili."

Ia mengatakan bagian dari kampanye itu juga untuk mengatasi perilaku buruk sepanjang periode Natal dan tahun baru. "Kami mengakui bahwa Natal bisa menjadi waktu yang sibuk dan menegangkan bagi banyak orang, tetapi itu tidak melibatkan perilaku kasar, menyinggung dan tidak sopan terhadap pekerja restoran cepat saji dan ritel," katanya.

"Kami juga meminta pengusaha untuk segera bertindak demi mengambil pendekatan toleransi nol terhadap perilaku ini dan mendukung pekerja ketika insiden terjadi.”

"Pemberi kerja harus meningkatkan dan melakukan lebih banyak untuk melindungi pekerja dan mengurangi risiko di tempat kerja mereka."

Pada September, seorang perempuan terhindar dari penjara setelah mengaku bersalah atas tuduhan termasuk penyerangan yang disengaja, perilaku tidak tertib dan menolak penangkapan setelah melakukan pelecehan terhadap staf KFC di Hindley Street, Adelaide. Ia diperintahkan berperilaku baik selama 18 bulan.

Simak berita ini dalam bahasa Inggris di sini.

sumber : http://www.abc.net.au/indonesian/2018-12-10/pekerja-restoran-cepat-saji-australia-seringkali-dilelecehkan-d/10603160
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA