Jumat, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

Jumat, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

Dua Mahasiswi Indonesia Jadi Korban Kekerasan di Australia

Jumat 08 Feb 2019 20:18 WIB

Red: Nur Aini

Mahasiswa Australia

Mahasiswa Australia

Foto: ABC News
Serangan yang diterima mahasiswi Indonesia diduga kuat bermuatan rasis.

REPUBLIKA.CO.ID, CANBERRA -- Dua mahasiswi asal Indonesia dilaporkan mendapat cacian dan satu orang di antaranya mendapat pukulan sampai terpental di kawasan Canberra City Centre, Australia, pada Kamis sore (7/02).

Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia (PPIA) di Kawasan ibu kota Australia, atau ACT, mengungkapkan kepada ABC Indonesia bahwa dua mahasiswi yang kuliah di Australian National University (ANU) dan University of Canberra mendapat serangan sekitar Pukul 04.30 sore waktu setempat.

"Saat ini saya belum bisa berkomunikasi dengan kobran karena mereka masih trauma," ujar Welhelmus Poek, Presiden PPIA ACT.

Welhelmus menjelaskan salah satu korban telah membagikan kronologi kejadiannya di jejaring sosial Whatsapp.

Kedua mahasiswi tersebut sedang berjalan menuju pemberhentian bus dekat pusat perbelanjaan Target, dan didatangi oleh seorang perempuan bersama temannya yang tiba-tiba mengeluarkan kata-kata kasar.

"Dia mencaci-maki kembali, seperti 'kenapa kamu berpakaian serba hitam', 'kenapa kamu masih hidup', 'itu tidak adil bagi kita', 'mana HP kamu'."

"Aku dan temanku hanya diam, kemudian dia memukul dengan keras telinga temanku sampai terpental dan lututnya berdarah."

"Bahkan celana temanku sobek."

Setelah mendengar laporan ini PPIA ACT langsung memberikan imbauan kepada mahasiswa Indonesia untuk selalu waspada. Menurut Welhelmus belum diketahui apa yang menjadi motif penyerangan, tetapi kuat dugaan jika serangan tersebut bermuatan rasis karena mempertanyakan cara berpakaian keduanya.

Ia juga menegaskan jika pihaknya tidak akan tinggal diam soal serangan ini, apalagi jika diduga kuat sebagai serangan rasis.

"Meski kita tinggal di negara orang, tapi negara ini punya hukum dan aturan, termasuk mengatur masalah kekerasan apalagi jika berbau rasis," ujarnya.

Sejumlah pihak menyayangkan karena saat insiden terjadi tidak ada warga yang membantu atau berusaha mencari tahu apa yang terjadi.

Sementara itu, pihak KBRI Canberra mengatakan kepada ABC Indonesia bahwa mereka telah mendapat laporan soal insiden penyerangan terhadap mahasiswa asal Indonesia di Canberra City Centre tersebut.

"KBRI Canberra telah menemui dan berkomunikasi langsung dengan kedua korban," ujar KBRI Canberra.

"Kedua korban telah melaporkan serangan tersebut kepada pihak kepolisian dan akan melakukan upaya hukum."

KBRI juga menyebutkan kalau pihaknya akan mendampingi kedua korban untuk menyelesaikan masalahnya secara hukum.

Insiden yang terjadi 7 Februari tersebut bertepatan dengan laporan media Canberra Times yang menyebutkan kepala pemerintahan ACT, Chief Minister Andrew Barr yang membawa delegasi perguruan tinggi Australia ke Indonesia. Dari kunjungan tersebut mereka berharap akan lebih banyak pelajar Indonesia yang melanjutkan pendidikan ke ibu kota Australia, terutama di bidang perubahan iklim, ekologi, keperawatan, serta informasi dan teknologi.

Dalam laporan tersebut juga disebutkan jumlah pelajar Indonesia di Indonesia telah meningkat 59,3 persen dalam kurun waktu empat tahun sejak 2014. Jumlah itu menjadi yang terbesar keempat setelah pelajar dari Bhutan, Cina, dan India.

Ikuti berita lainnya dari ABC Indonesia.

sumber : http://www.abc.net.au/indonesian/2019-02-08/dua-mahasiswa-indonesia-diserang-di-canberra/10794522
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA