Monday, 22 Safar 1441 / 21 October 2019

Monday, 22 Safar 1441 / 21 October 2019

Fasilitas Militer Amerika Ini Bisa Jadi Target Nuklir Rusia

Selasa 26 Feb 2019 16:28 WIB

Rep: Kamran/Fergie/ Red: Teguh Firmansyah

S 400 Rudal jarak jauh andalan Rusia

S 400 Rudal jarak jauh andalan Rusia

Foto: Rusia Insider.com
Rudal-rudal hipersonik Rusia dapat mencapai sasaran dalam waktu kurang dari 5 menit.

REPUBLIKA.CO.ID, MOSKOW -- Televisi Pemerintah Rusia mencantumkan beberapa fasilitas militer Amerika Serikat (AS) yang berpotensi menjadi sasaran serangan rudal nuklir Rusia. Rudal itu disebut dapat menjangkau target hanya dalam waktu lima menit.

Dalam siarannya pada Ahad malam, presenter televisi pemerintah Rusia, Dmitry Kiselyov, menunjuk fasilitas militer AS yang menurutnya akan menjadi target jika terjadi perang nuklir antara Moskow dan Washington.

Baca Juga

Target tersebut antara lain pusat komando atau militer AS, termasuk Fort Ritchie, pusat pelatihan militer di Maryland yang ditutup pada 1998, McClellan, pangkalan Angkatan Udara AS di California yang ditutup pada 2001, dan Jim Creek, pangkalan komunikasi Angkatan Laut di Washington.

Kiselyov yang memiliki kedekatan dengan Kremlin, mengatakan rudal hipersonik "Tsirkon" (Zircon) dapat mencapai sasaran-sasaran tadi dalam waktu kurang dari lima menit jika diluncurkan dari kapal selam Rusia.

"Untuk saat ini, kami tidak mengancam siapa pun, tapi jika penyebaran (rudal) seperti itu terjadi, respons kami akan instan," kata Kiselyov.

Penyebaran yang dimaksud Kiselyov adalah penempatan rudal nuklir jarak menengah oleh AS di Eropa. AS dan Rusia diketahui telah menangguhkan keterikatannya dalam perjanian Intermediate-range Nuclear Forces (INF).

Perjanjian yang ditantadatangani pada 1987 tersebut melarang kedua negara memiliki dan memproduksi rudal nuklir dengan jarak 500-5.500 kilometer. AS memutuskan menangguhkan keterikatannya karena menuding Rusia melanggar ketentuan-ketentuan INF.

Rusia menyangkal tuduhan tersebut. Karena Washington enggan melakukan perundingan dengan Moskow guna mempertahankan INF, Moskow akhirnya turut menangguhkan keterikatannya dalam INF.

Dalam pidato tahunan State of the Nation yang disampaikan di Majelis Federal Rusia pekan lalu, Presiden Rusia menyatakan siap merespons langkah AS mengerahkan rudal nuklir jarak menengah ke Eropa. Rusia, kata dia, tidak hanya akan mengincar negara yang menjadi tempat rudal ditempatkan, tapi juga AS.

Sebab Putin menilai, langkah AS menyebar rudal nuklir jarak menengah di Eropa merupakan ancaman langsung terhadap negaranya. "Ini adalah ancaman yang sangat serius bagi kami. Dalam hal ini kami akan dipaksa, dan saya ingin menekankan ini, kami akan dipaksa untuk membayangkan langkah-langkah tit-for-tat (strategi dengan konsep dasar pembalasan) dan asimetris," ujar Putin.

Kendati demikian, Putin mengatakan negaranya masih terbuka untuk melanjutkan dialog perlucutan senjata nuklir dengan AS. "Tapi kami tidak akan mengetuk pintu yang sudah tertutup lagi. Kami akan menunggu sampai mitra kami siap dan mengakui perlunya dialog tentang masalah ini atas dasar kesetaraan," ucapnya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA