Friday, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

Friday, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

PM Pakistan Ingin Berdialog dengan India

Kamis 28 Feb 2019 10:50 WIB

Red: Teguh Firmansyah

Perdana Menteri Pakistan, Imran Khan.

Perdana Menteri Pakistan, Imran Khan.

Foto: EPA-EFE/Thomas Peter
Pakistan mengaku telah menembak jatuh dua jet tempur India.

REPUBLIKA.CO.ID, ISLAMABAD -- Perdana Menteri Pakistan Imran Khan meminta agar dilakukan perundingan terkait ketegangan yang terjadi di wilayah Kashmir. Menurutnya, sudah saatnya Pakistan dan India membahas solusi diplomatik untuk situasi krisis ini.

"Dengan senjata yang Anda miliki dan senjata yang kita miliki, bisakah kita melakukan kesalahan perhitungan? Bukankah kita harus berpikir bahwa jika ini meningkat, apa yang akan terjadi?," ujar Khan seperti dilansir the Guardian, Kamis (28/2).

Ketegangan udara yang terjadi pada Rabu (27/2) pagi merupakan yang pertama antar Angkatan Udara kedua negara. Hal ini memicu penutupan bandara komersial di Pakistan dan India. Selain itu, Pakistan juga menutup wilayah udaranya, sehingga menyebabkan penerbangan internasional dialihkan.

Sementara itu, masyarakat di Lahore dan Islamabad mulai memenuhi supermarket untuk membeli suplai bahan makanan. Sedangkan semua anggota polisi dan petugas kesehatan di Provinsi Khyber Pakhtunkhwa tidak boleh mengambil cuti.

Pakistan telah menembak jatuh dua jet tempur India yang disebut telah menerbos wilayah udara negara tersebut. Kedua pesawat itu dianggap melanggar Garis Kontrol Kashmir yang menjadi perbatasan de facto kedua negara. Satu pilot India dilaporkan ditahan oleh Pakistan.

Pada saat yang sama, jet tempur India lainnya jatuh di Budgam, sebuah daerah di Kashmir yang dikelola India. Tiga orang, termasuk pilot dan warga sipil, dilaporkan tewas dalam insiden tersebut. Khan mengatakan, serangan udara dikerahkan dari dalam wilayah yang dikuasai Pakistan, dan sengaja ditujukan kepada ladang kosong untuk mengirimkan pesan kepada India.

"Sudah menjadi rencana kami bahwa seharusnya tidak ada kerusakan dan tidak ada korban. Kami hanya ingin mengirimkan pesan kepada India, bahwa kami memiliki kemampuan. Jika anda dapat datang ke negara kami, maka kami juga dapat mendatangi negara anda dan melakukan operasi," kata Khan.

Konflik antara kedua negara semakin meningkat jelang pemilihan umum India yang akan digelar pada April mendatang. Di sisi lain, Pakistan ingin menunjukkan kepada India bahwa mereka tidak dapat ditekan. Analis kebijakan yang merupakan pensiunan brigadir militer India, Aruh Sahgal mengaku optimistis konflik kedua negara akan mereda.

"Kedua negara telah kehilangan pesawat masing-masing sehingga ada kesetaraan. Dari sudut pandang politik, perdana menteri India (Narendra Modi) tampil sebagai pemimpin yang tegas, sehingga tidak ada lagi yang bisa dicapai," ujar Sahgal.

Menteri Luar Negeri Inggris, Jeremy Hunt mendesak Pakistan dan India menahan diri agar situasi tidak semakin memburuk. Hunt mengatakan, ia akan terlibat dalam upaya untuk mencegah agar krisis tidak semakin mendalam.

"Tidak ada pihak yang menginginkan (konflik) ini meningkat, tetapi karena kurangnya kepercayaan antara kedua negara menyebabkan situasi menjadi tidak stabil. Anda tidak hanya memiliki pemerintah, namun anda memiliki opini publik yang sangat meradang," kata Hunt.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri India Raveesh Kumar mengatakan, Pakistan menggunakan angkatan udara untuk menargetkan instalasi militer India. Selain itu, Delhi juga mengklaim telah menembak jatuh sebuah jet Pakistan di perbatasan.

Eskalasi antara India dan Pakistan dipicu oleh insiden bom bunuh diri di Pulwama, Kashmir, dua pekan lalu. Insiden itu menyebabkan sedikitnya 44 tentara India tewas.

Kelompok Jaish-e-Mohammad (JeM) mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut. Kendati demikian, India menuding Pakistan terlibat dalam merancang serangan di Pulwama.

Baca Juga

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA