Friday, 22 Zulhijjah 1440 / 23 August 2019

Friday, 22 Zulhijjah 1440 / 23 August 2019

Ketegangan Diplomatik Australia dan Turki Mereda

Kamis 21 Mar 2019 18:14 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Nur Aini

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan

Foto: Presidential Press Service via AP
Kantor Presiden Turki menanggapi pernyataan Erdogan seputar penembakan Selandia Baru.

REPUBLIKA.CO.ID, ANKARA -- Pertikaian diplomatik antara Turki dan Australia mengenai penembakan massal di Christchurch, Selandia Baru mulai mereda. Perdana Menteri Australia Scott Morrison mengatakan, ketegangan antara kedua negara telah surut, setelah kantor Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan menanggapi pernyataannya seputar penembakan tersebut.

Baca Juga

Direktur Komunikasi untuk Kepresidenan Turki, Fahrettin Altun mengatakan, pernyataan Erdogan sebetulnya menanggapi manifesto yang diunduh secara online oleh pelaku teror masjid di Selandia Baru. Altun mengatakan, Erdogan membuat pernyataan tersebut dalam konteks sejarah yang berkaitan dengan serangan di masa lalu. Apalagi, Erdogan berbicara di dekat lokasi peringatan medan perang Gallipoli.

"Sayangnya, kata-kata Presiden Erdogan diambil di luar konteks. Turki selalu menjadi tuan rumah yang paling ramah kepada para pengunjung Anzac (Australia dan Selandia Baru)," ujar Altun dalam Twitter-nya, Kamis (21/3).

Altun menjelaskan, manifesto yang diunduh oleh teroris tersebut tidak hanya menargetkan Erdogan, namun juga warga dan negara Turki. Menurutnya, ketika memberikan pidato dia menyusun pernyatannya dalam konteks historis serangan terhadap Turki di masa lampau dan masa sekarang.

Sementara itu, Perdana Menteri Australia Scott Morrison telah melihat sikap moderat dari pandangan Presiden Erdogan. Pemerintah Australia dan Turki telah melakukan serangkaian komunikasi diplomatik tingkat tinggi mengenai masalah tersebut.

"Tadi malam, kemajuan telah dibuat dan kami sudah melihat sikap moderat dari pandangan presiden. Ini adalah niat saya untuk menyelesaikan masalah ini secara praktis, untuk mencatat tentang pelanggaran yang dilakukan, saya sempat percaya dengan komentar-komentar kemarin, tetapi sekarang kami bekerja secara konstruktif," ujar Morrison dilansir Aljazirah.

Morisson menambahkan, Australia dan Turki telah membangun hubungan bilateral yang luar biasa dari generasi ke generasi. Meredanya ketegangan antara Australia dan Turki terjadi ketika Menteri Luar Negeri Selandia Baru sekaligus Wakil Perdana Menteri Winston Peters berkunjung ke Turki untuk bertemu Erdogan dan meminta klarifikasi atas pernyataan kontroversial tersebut.

Dalam ajang kampanye pemilihan kepala daerah di Antalya, Erdogan menayangkan rekaman teror penembakan di Selandia Baru yang dilakukan warga Australia Brenton Tarrant, dengan alasan sebagai pengingat akan propaganda anti-Islam. Erdogan turut menyitir isi manifesto Tarrant yang ditulis sebelum beraksi yang menyatakan hendak mengusir bangsa Turki dari Eropa.

Erdogan mengancam bakal memerangi pihak-pihak yang hendak menebar teror anti-Islam di Turki. Dia juga menyinggung soal peristiwa Pertempuran Gallipoli pada 1915 dalam Perang Dunia I.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA