Tuesday, 15 Rabiul Awwal 1441 / 12 November 2019

Tuesday, 15 Rabiul Awwal 1441 / 12 November 2019

WNI di Australia Antusias Coblos, Antre Hingga Malam Hari

Ahad 14 Apr 2019 08:28 WIB

Red:

abc news

abc news

Membludaknya warga yang datang, antrean sempat tak terkontrol dan dorong-dorongan.

Antusias warga Indonesia di Melbourne, Australia untuk bisa mencoblos di Pemilu 2019 sangat tinggi, bahkan hingga malam hari antrian masih panjang di depan kantor KJRI Melbourne.

Menurut jadwal sebelumnya, pencoblosan akan ditutup pukul 7 malam waktu setempat, hari Sabtu (13/04).

Satu jam terakhir sebelum penutupan dikhususkan bagi warga Indonesia yang masuk dalam Daftar Pemilih Khusus (DPK).

Yang termasuk dalam DPK adalah pemilih yang tidak terdata di luar negeri, tetapi tetap memiliki hak memilih dan cukup membawa paspor.

Salah satu warga Indonesia asal Aceh, Frilla Geubrina mengatakan kepada ABC bahwa ia baru saja selesai mencoblos sekitar pukul 07:30 malam.

"Tadi jam 6 sore semua yang DPK disuruh masuk dan antrian masih panjang hingga ke ujung jalan [Kantor KJRI]," ujarnya kepada Erwin Renaldi dari ABC Indonesia.

Ia menjelaskan karena membludaknya warga yang datang, antrian sempat tidak terkontrol dan terjadi dorong-dorongan.

Tetapi kemudian situasi masih terkendali dan proses pencoblosan masih bisa dilakukan semestinya, seperti pengecekan jari tangan sebelum mencoblos dan pemilih memastikan kartu suara belum dicoblos.

 

Simak video antusias warga Indonesia di Melbourne untuk memilih disini.

Di Melbourne, pemilih tetap mencapai lebih dari 13.000 orang dan Panita Pemilihan Luar Negeri (PPLN) belum memastikan berapa jumlah pemilih yang datang.

Antrian panjang sudah terlihat di sekitar kantor KJRI Mebourne sejak pagi hari dengan panjang mencapai ratusan meter dan sempat membuat kemacetan.

Kebanyakan pemilih di Melbourne adalah mahasiswa dan beberapa diantaranya bahkan mengaku baru pertama kali mencoblos dalam hidupnya.

Salah satunya adalah Albert Witanto, mahasiswa di Melbourne yang mengaku persaingan pemilu kali ini terasa begitu ketat dan bahkan menyamakan dengan pemilu Amerika Serikat saat Donald Trump dan Hillary Clinton bersaing.

Albert baru pertama kali memilih dan ia merasa sedikit cemas menunggu hasil pemilu yang baru akan diumumkan bersamaan dengan pemilu di Indonesia.

"Saya berharap Indonesia akan terus berkembang dan lebih maju dan menciptakan pemerintahan yang efektif," ujarnya kepada ABC Indonesia.

 

Siauw Exel Prasadhana Setiawan yang juga mahasiswa, pada awalnya mengaku sempat tidak akan ikut mencoblos pada pemilu kali ini karena melihat kekurangan dari kedua kandidat presiden.

Exel menginginkan seorang pemimpin yang dapat berani menutaskan korupsi, masalah lingkungan, serta meningkatkan perlindungan bagi warga minoritas di Indonesia.

Karenanya ia mengaku mencoblos adalah salah satu bentuk kekuasaan yang dimilikinya sebagai warga untuk melakukan perubahan.

 

Melihat antrian yang panjang, Anggraini Prawira merasa bersyukur karena ia sudah melakukan pendaftaran online untuk memilih sehingga tidak perlu lama mengantri.

Ia mengaku sangat terkejut dengan minat memilih di Pemilu 2019 kali ini apalagi dibandingkan dengan Pemilu 2014.

"Semua orang sangat antusias untuk datang dan kita ingin mencoblos, kita ingin yang terbaik untuk Indonesia," ujarnya.

"Meskipun kita tinggal di Australia, kita masih peduli dengan apa yang terjadi di Indonesia saat ini."

Pemilu 2019 telah menciptakan banyak perdebatan soal pilihan politik, khususnya di jejaring sosial seperti Facebook dan Whatsapp group yang juga telah memicu perpecahan dalam keluarga dan pertemanan.

Tapi Anggraini berharap Pemilu 2019 bisa tetap berjalan lancar dan damai dan hasilnya bisa diterima dan dihormati oleh seluruh warga Indonesia, siapa pun pemenangnya.

Ikuti berita-berita lainnya dari seputar pemilu Indonesia di Australia hanya di ABC Indonesia.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Disclaimer: Berita ini merupakan kerja sama Republika.co.id dengan ABC News (Australian Broadcasting Corporation). Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi berita menjadi tanggung jawab ABC News (Australian Broadcasting Corporation).
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA