Senin, 19 Rabiul Akhir 1441 / 16 Desember 2019

Senin, 19 Rabiul Akhir 1441 / 16 Desember 2019

2 Pria di Irlandia Utara Ditangkap karena Kematian Jurnalis

Ahad 21 Apr 2019 02:16 WIB

Rep: Iit Septyaningsih/ Red: Ratna Puspita

Seorang polisi meletakan bunga di lokasi terbunuhnya jurnalis Lyrca Mckee.

Seorang polisi meletakan bunga di lokasi terbunuhnya jurnalis Lyrca Mckee.

Foto: EPA-EFE/JOE BOLAND / NORTH WEST NEWSPIX
Polisi meyakini, penembakan tersebut kemungkinan dilakukan oleh kelompok kecil IRA.

REPUBLIKA.CO.ID, LONDONDERRY -- Dua pria di Irlandia Utara ditangkap atas penembakan yang terjadi selama kerusuhan di Londonderry. Sebab, kejadian itu menewaskan seorang jurnalis bernama Lyra McKee.

Baca Juga

Perempuan berusia 29 tahun tersebut ditembak saat sedang menyaksikan pemuda nasionalis Irlandia menyerang polisi setelah penggerebekan pada Kamis (18/4) lalu. Saat itu, McKee berdiri dekat kendaraan polisi bersama jurnalis lainnya.

Rekaman video menunjukkan, saat kejadian, McKee bercampur dengan kerumunan yang menyaksikan pemuda setempat menyerang polisi menggunakan bom bensin sekaligus membakar mobil. Salah satu polisi mengatakan, jurnalis pemenang penghargaan itu dipukul ketika seorang pria bersenjata melepaskan tembakan ke arah petugas.

Kantor Polisi Irlandia Utara kemudian menyatakan, dua pria yang ditangkap masing-masing berusia 18 tahun serta 19 tahun. Keduanya dikenakan Undang-Undang Terorisme.

Polisi meyakini, penembakan tersebut kemungkinan dilakukan oleh kelompok kecil IRA baru dari militan nasionalis Irlandia yang menentang perjanjian damai Jumat Agung. Polisi menuduh kelompok itu karena ketahuan menanam bom mobil di luar gedung pengadilan di Londonderry pada Januari.

Partai-partai politik Irlandia Utara yang bercita-cita menyatukan wilayah Inggris dengan Irlandia dan serikat pekerja yang ingin wilayah Inggris tetap pun mengeluarkan seruan bersama agar masyarakat tenang. "Pembunuhan Lyra McKee merupakan serangan terhadap semua orang di komunitas ini, serangan terhadap perdamaian dan proses demokrasi," ujar pemimpin enam partai utama seperti dilansir Reuters, Ahad, (21/4).

Para politisi di dunia juga mengutuk penembakan tersebut. Mantan presiden Amerika Serikat (AS) Bill Clinton turut menyampaikan tanggapannya. "Kita tidak bisa melepaskan 21 tahun terakhir dari perdamaian dan kemajuan yang dicapai dengan susah payah," ujar dia lewat akun Twitter-nya. 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA