Friday, 4 Rajab 1441 / 28 February 2020

Friday, 4 Rajab 1441 / 28 February 2020

Tiga Orang Tewas saat Pasukan Sudan Serbu Kamp Demonstran

Senin 03 Jun 2019 19:00 WIB

Rep: Rossi Handayani/ Red: Ani Nursalikah

Pasukan keamanan Sudan menggiring warga sipil di Khartoum, Sudan, Senin (3/6). Pasukan keamanan Sudan membubarkan paksa kamp pemrotes.

Pasukan keamanan Sudan menggiring warga sipil di Khartoum, Sudan, Senin (3/6). Pasukan keamanan Sudan membubarkan paksa kamp pemrotes.

Foto: AP Photo via AP video
Pembicaraan mengenai siapa yang harus memerintah Sudan selama masa transisi buntu.

REPUBLIKA.CO.ID, KHARTOUM -- Asosiasi medis yang berafiliasi dengan para pemrotes menyebutkan, setidaknya tiga orang tewas saat pasukan keamanan Sudan menyerbu sebuah kamp protes di Khartoum tengah, Senin pagi (3/6). Pembicaraan antara pemrotes dan penguasa militer mengenai siapa yang harus memerintah Sudan selama masa transisi menemui jalan buntu. Ini terjadi setelah penggulingan Presiden Omar al-Bashir awal tahun ini.

"Para pengunjuk rasa yang duduk di depan komando umum militer menghadapi pembantaian dalam upaya berbahaya untuk membubarkan protes," kata kelompok protes utama dalam sebuah pernyataan.

Dewan Militer Transisi (TMC) yang mengambil alih kekuasaan pada April telah menawarkan membiarkan para pengunjuk rasa membentuk pemerintah untuk menjalankan negara itu. Akan tetapi mereka bersikeras mempertahankan otoritas keseluruhan selama periode sementara.

Demonstran ingin warga sipil menjalankan masa transisi dan memimpin negara Afrika Utara yang berpenduduk 40 juta orang itu menuju demokrasi. Ribuan pria dan wanita muda telah bergantian berkemah di luar Kementerian Pertahanan dari April lalu.

Tempat ini telah menjadi titik fokus protes antipemerintah yang dimulai pada Desember. Awalnya dipicu oleh krisis keuangan yang parah, menyebabkan kekurangan uang tunai, dan kenaikan harga roti.

Belum ada pernyataan tentang kekerasan yang dikeluarkan oleh TMC. Juru bicara tidak dapat segera dihubungi untuk memberikan komentar.

Duta Besar Inggris di Khartoum mengatakan dalam sebuah pesan di akun Twitter-nya dia sangat prihatin dengan tembakan keras yang ia dengar selama satu jam terakhir dari kediamannya. Ia melaporkan pasukan keamanan Sudan menyerang tempat pemrotes yang menimbulkan korban.

"Tidak ada alasan untuk serangan semacam itu. Ini. Harus. Berhenti. Sekarang," tulisnya.

Tayangan langsung di televisi menunjukkan adegan yang kacau. Pengunjuk rasa melarikan diri ketika asap hitam naik dari tenda yang tampaknya dibakar dari serangan penggerebekan.

Demonstran selama beberapa mengibarkan bendera Sudan, melemparkan batu ke pasukan keamanan. Sebuah video yang diunggah di media sosial menunjukkan seorang demonstran jatuh ke tanah, menangis kesakitan setelah terkena tembakan langsung.

Seorang saksi mata Reuters melihat pasukan yang memegang tongkat, termasuk polisi antihuru-hara dan anggota Rapid Support Forces paramiliter, dikerahkan di Khartoum tengah. Mereka mencoba menghalangi orang-orang untuk mencapai lokasi protes.

Jembatan Nile yang menghubungkan berbagai bagian ibu kota Sudan juga telah diblokir. Di Omdurman, di seberang Nile, ribuan orang turun ke jalan, menghalangi jalan dengan batu dan membakar ban. Namun tidak ada tanda-tanda pasukan keamanan di daerah itu. Sudan, salah satu negara terbesar di Afrika, telah lama masuk dalam daftar negara-negara Amerika Serikat (AS) yang mendukung terorisme dan menghambat investasi asing.

Baca Juga

sumber : Reuters
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA