Sunday, 24 Zulhijjah 1440 / 25 August 2019

Sunday, 24 Zulhijjah 1440 / 25 August 2019

Dua Juta Warga Hong Kong Diperkirakan Turun ke Jalan

Senin 17 Jun 2019 11:24 WIB

Rep: Rossi Handayani/ Red: Ani Nursalikah

Demonstran mengenakan kacamata pelindung dan masker berjalan menuju Dewan legislatif untuk melanjutkan protes menentang RUU ekstradisi di Hong Kong, Senin (17/6).

Demonstran mengenakan kacamata pelindung dan masker berjalan menuju Dewan legislatif untuk melanjutkan protes menentang RUU ekstradisi di Hong Kong, Senin (17/6).

Foto: AP Photo/Vincent Yu
Pengunjuk rasa Hong Kong menentang RUU ekstradisi.

REPUBLIKA.CO.ID, HONG KONG -- Pemogokan dan protes lebih lanjut diperkirakan terjadi di Hong Kong, Senin (17/6). Ini setelah pengunjuk rasa menolak permintaan maaf dari pemimpin Eksekutif Carrie Lam, saat pawai dengan sekitar dua juta orang memenuhi jalan untuk menentang RUU ekstradisi yang kontroversial.

Baca Juga

Protes ini menjadi yang terbesar di Hong Kong sejak dikembalikan ke Cina dari Inggris pada 1997. Lam meminta maaf atas cara pemerintah menangani rancangan undang-undang tersebut. Dua tuntutan utama dari para demonstran yakni dia mencabutnya atau mengundurkan diri.

Lam telah memperjuangkan undang-undang yang akan memungkinkan warga untuk dikirim ke Cina untuk diadili. Ini terjadi saat krisis politik telah memasuki pekan kedua, ketidakpastian semakin meningkat atas nasib politiknya.

"Pemerintahannya tidak bisa menjadi pemerintahan yang efektif, dan akan memiliki banyak, banyak, banyak kesulitan untuk dijalankan," kata legislator senior Partai Demokrat James To, dilansir di Guardian, Senin (17/6).

"Saya percaya orang pemerintah pusat akan menerima pengunduran dirinya," ucapnya.

Politikus oposisi menyuarakan seruan dari pemrotes agar Lam mundur dan RUU tersebut dibatalkan. "Kami tidak dapat menerima permintaan maafnya, itu tidak menghilangkan semua ancaman kami," kata pekerja sosial Brian Chau, yang berada diantara beberapa ratus pengunjuk rasa menginap di distrik Admiralty di sekitar kantor pusat dan legislatif pemerintah.

Pada Senin pagi, beberapa ratus pemrotes menolak permintaan polisi untuk mengosongkan jalan. Seorang polisi wanita yang menggunakan pengeras suara meminta mereka bekerja sama.

Seorang wanita pengunjuk rasa berpakaian hitam menanggapi dengan mikrofonnya sendiri. Ia mengatakan mereka tidak menghalangi siapa pun untuk bekerja dan akan pergi hanya setelah Lam datang untuk mendengarkan mereka.

Demonstrasi pada Ahad terjadi setelah Lam tanpa batas waktu menunda RUU. Penyelenggara protes menuntut penarikan penuh RUU, dan mereka menunjukkan kemarahan mereka pada cara polisi menangani demonstrasi pada Rabu. Saat itu lebih dari 70 orang terluka oleh peluru karet dan gas air mata.

Beberapa pawai Ahad menyebutkan, "Jangan tembak, kami adalah warga Hong Kong".

"Menangguhkan hukum tetapi tidak membatalkannya seperti memegang pisau di atas kepala seseorang dan berkata, 'Saya tidak akan membunuhmu sekarang', tetapi Anda bisa melakukannya kapan saja. Kami berjuang untuk kebebasan kami," ujar Betty, seorang pemrotes (18 tahun) yang baru saja lulus sekolah.

"Sebelum pekan ini saya belum pernah melakukan protes. "Tapi saya seorang guru, dan saya menyadari jika saya tidak datang saya tidak akan bisa menghadapi murid-murid saya. Ini adalah masa depan mereka," kata Lau (28).

Penyelenggara berharap untuk terus menekan Lam, menyerukan siswa dan pekerja untuk mogok pada Senin dan toko-toko harus tutup. Pemerintah mengumumkan Dewan Legislatif akan tetap ditutup untuk hari itu.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA