Sunday, 24 Zulhijjah 1440 / 25 August 2019

Sunday, 24 Zulhijjah 1440 / 25 August 2019

Difabel Asal Indonesia Raih Gelar Doktor di Australia

Rabu 17 Jul 2019 15:07 WIB

Red:

abc news

abc news

Prinsip hidupnya, siapapun yang berusaha keras akan mencapai keberhasilan.

Prinsip hidupnya, siapapun yang berusaha keras akan mencapai keberhasilan. Prinsip itulah yang membuat Antoni Tsaputra mampu menyelesaikan pendidikan doktoral di Universitas New South Wales - walau dia seorang penyandang disabilitas fisik berat.

Sekarang Antoni Tsaputra dan istrinya Yuki Melani yang menemaninya selama beberapa tahun di Sydney, sudah kembali ke Padang (Sumatra Barat) untuk bekerja dan menyesuaikan diri dengan kehidupan di Indonesia - yang belum ramah disabilitas.

Menyelesaikan pendidikan doktoral, menurut Antoni, merupakan salah satu pencapaian yang sudah dilaluinya namun perjuangan hidupnya masih terus berlanjut. Dan pria kelahiran Padang ini bangga bahwa dia berhasil menyelesaikan pendidikan doktornya.

"Sudah ada 3 atau 4 orang penyandang disabilitas yang meraih doktor di Indonesia kalau saya tidak salah. Tapi saya mungkin penyandang disabilitas fisik berat pertama di Indonesia yang meraih PhD di luar negeri," katanya lewat percakapan email dengan wartawan ABC Indonesia Sastra Wijaya.

Antoni menyelesaikan pendidikan di Jurusan Ilmu Sosial (Social Sciences) di UNSW dengan disertasinya penganggaran pemerintah yang inklusif terhadap penyandang disabilitas (Disability Inclusive Budgeting).

"Saya meneliti bagaimana potensi penganggaran pemerintah di Indonesia yang berpihak kepada penyandang disabilitas bisa membantu merealisasikan pemenuhan hak-hak penyandang disabilitas dalam seluruh sektor tidak lagi hanya dalam ranah rehabilitasi sosial." kata Antoni sebelumnya.

 

Lalu ada rekomendasinya dari kesimpulan disertasi tersebut. "Temuan terpenting dari studi doktoral saya adalah bahwa alokasi anggaran tidak cukup untuk para warga difabel berpartisipasi aktif dalam pembangunan di Indonesia," katanya.

Menurut Antoni perlunya penganggaran inklusif disabilitas (Disability Inclusive Budgeting) sehingga nantinya tidak hanya sekadar kebijakan untuk membantu para disabilitas dalam pembangunan tapi harus memungkinkan penyandang disabilitas atau difabel menjadi agen aktif dalam pembangunan sebagai warga masyarakat berdaya." katanya lagi.

Secara pribadi, kesulitan apa yang terbesar yang dialaminya sebagai seorang difabel dibandingkan merkea yang lain dalam studi? "Pendidikan doktoral bukanlah perjalanan studi yang mudah bagi siapa saja termasuk mereka yang memiliki disabilitas." kata Antoni.

Antoni tidak melihat apa yang dijalankannya selama beberapa tahun studi di Sydney sebagai kesulitan, namun lebih sebagai tantangan. "Tantangan terkait disabilitas saya adalah waktu yang diperlukan relatif lebih lama dalam menulis, karena saya mengetik menggunakan virtual keyboard, sehingga saya juga harus menghabiskan lebih banyak waktu di lab untuk bekerja." katanya.

Sebelumnya Antoni menyelesaikan studi S1 di Universitas Andalas Padang bidang Sastra Inggris tahun 2000. Ia melanjutkan pendidikan S2 di tahun 2011 dan meraih gelar Master of Arts dari Griffith University di Brisbane bidang Journalism and Mass Communication .

Di Brisbane Antoni mendapat beasiswa dari pemerintah Australia namun kemudian melanjutkan pendidkan doktoral di UNSW atas beasiswa dari pemerintah Indonesia lewat LPDP .

Ketika belajar di Australia, apa yang membedakannya dengan di Indonesia?

"Perbedaan yang paling signifikan mungkin masih terbatasnya sistem pendukung (aksesibilitas, sumber daya, teknologi untuk membantu mempermudah) yang diperlukan oleh mahasiswa difabel dengan beragam disabilitas yang mereka miliki di sebagian besar universitas dan/atau perguruan tinggi di Indonesia." kata Antoni.

Dan karena itu apakah kalau dia melanjutkan pendidikan di Indonesia apakah dia akan bisa menyelesaikan pendidikan doktornya?

"Tentunya bisa saja, namun mungkin dengan tantangan yang lebih besar dan perjuangan lebih berat." katanya lagi.

 

Sebelum melanjutkan pendidikan di Australia, Antoni Tsaputra sudah bekerja sejak tahun 2004 sebagai pegawai negeri sipil di Pemerintah Kota Padang. Sejak 2011 ia juga aktif dalam gerakan hak kelompok difabel terutama di bidang advokasi hak-hak penyandang disabilitas.

"Tidak ada hal yang disebut sebagai tidak mungkin"

Dan setelah kembali ke Indonesia, Antoni mengatakan dia akan terus bergerak di bidang advokasi hak-hak penyandang disabilitas tersebut.

"Saya kembali akan berjuang bersama komunitas saya untuk melanjutkan advokasi hak-hak penyandang disabilitas dan mengaplikasikan hasil penelitian doktoral saya untuk menjadikan disabilitas sebagai isu pembangunan di Indonesia bukan lagi isu kesejahteraan sosial." katanya.

Apa pesan yang hendak disampaikannya kepada teman-teman difabel lain yang ingin melanjutkan studi?

"Saya yakin teman-teman difabel di Indonesia terutama generasi millennial ingin terus maju di bidang pendidikan setinggi mungkin. "

"Tidak ada hal yang disebut sebagai tidak mungkin. Yang dibutuhkan adalah tekad yang kuat dan kerja keras." katanya lagi.

Antoni mendorong mereka yang memiliki disabilitas untuk melanjutkan pendidikan bila mereka menghendaki.

"Indonesia membutuhkan ilmuwan muda difabel dengan pemikiran kritis dibekali pendidikan kelas dunia untuk mewujudkan Indonesia inklusif and tempat baik untuk dihuni bagi siapa saja." kata Antoni Tsaputra.

Selama di Sydney, Antoni mengatakan bahwa dia merasa beruntung karena dia dibantu oleh istrinya Yuki Melani dan ayahnya Effendi yang membantu untuk mengurusi dirinya dan membantu studinya.

"Istri saya selalu mendampingi dan membantu saya 24 jam di kantor dan di rumah. Ayah saya Effendi seorang pensiunan PNS juga selalu membantu mengurus saya. Ibu saya Tasmaniar sekali setahun juga mengunjungi kami beberapa bulan di Sydney." kata Antoni.

 

Simak berita-berita lainya dari ABC Indonesia

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
Disclaimer: Berita ini merupakan kerja sama Republika.co.id dengan ABC News (Australian Broadcasting Corporation). Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi berita menjadi tanggung jawab ABC News (Australian Broadcasting Corporation).
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA