Friday, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Friday, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Hoaks Penggal Kepala Untuk Jembatan Tewaskan Delapan Warga Bangladesh

Kamis 25 Jul 2019 12:34 WIB

Red:

abc news

abc news

Delapan orang dibunuh karena dituduh sebagai penculik.

Cerita hoaks ini sebenarnya sudah beredar selama puluhan tahun bahwa dalam pembangunan sebuah jembatan, ada anak yang diculik dan kepalanya dipotong untuk dijadikan tumbal.

Hoaks Tumbal Kepala Untuk Jembatan

Namun dalam kasus terbaru di Bangladesh, delapan orang dibunuh karena dianggap sebagai penculik, yang menjadi korban pembunuhan massal.

Menurut kepala polisi Bangladesh Javed Patwary, hoaks ini bermula disebarkan kebanyakan lewat Facebook yang mengatakan adanya sebuah proyek pembangunan jembatan bernilai Rp 3 Triliun, yang mencari kepala anak untuk dijadikan tumbal.

Delapan orang yang sudah menjadi korban tewas, dua diantaranya adalah perempuan. "Kami sudah menganalisa semua kasus dari delapan pembunuhnan tersebut." kata Patwary kepada wartawan di ibukota Bangladesh, Dhaka.

"Mereka yang tewas ini semuanya dibunuh oleh massa. Tidak seorang pun diantara korban adalah penculik anak-anak."

Menurut laporan, sudah ada lebih dari 30 penyerangan sejak rumor tersebut beredar. Kepala polisi Bangladesh Javed Patwary mengatakan kantor polisi di seluruh negeri sudah diperintahkan untuk memadamkan penyebaran hoaks tersebut.

Sejauh ini sudah ada 25 kanal di YouTube, 60 akun Facebook dan 10 situs yang ditutup. Namun kantor berita AFP masih menemukan beberapa akun di Facebook yang menyebarkan kabar bohong tersebut.

Tindakan brutal yang dilakukan massa sering terjadi di Bangladesh, namun insiden terbaru ini yang paling banyak memakan korban tewas.

Media lokal mengatakan kabar hoaks tersebut mulai beredar setelah adanya laporan bahwa seorang pemuda menemukan kepala seorang anak kecil di Netrokona, di Bangladesh utara.

Korban paling baru adalah seorang perempuan orang tua tunggal beranak dua, Taslima Begum,yang dipukuli sampai mati di depan sebuah sekolah di Dhaka pada hari Sabtu oleh massa yang mencurigai perempuan tersebut sebagai penculik anak-anak.

Seorang pria tunarungu juga dipukuli sampai mati di hari yang sama ketika dia hendak mengunjungi rumah anak perempuannya. Polisi mengatakan delapan orang telah ditahan berkenaan dengan pembunuhan terhadap Begum, dan paling sedikit lima orang lainnya ditahan karena menyebarkan kabar hoaks ini di media sosial.

Tindakan massa in karena ketidakpercayaan terhadap hukum

Polisi juga mengkhawatirkan adanya korban di daerah pedesaan, dengan petugas mencoba membantah kabar bohong ini menggunakan TOA dengan berkeliling.

"Kami membangun kesadaran mengenai kabar hoaks tersebut dan meminta warga untuk tidak panik," kata kepala polisi di Distrik Chapainawabganj.

Sekitar 1,6 juta petugas keamanan sudah dikirim ke berbagai desa, kata Mayor Jenderal Kazi Sharif Kaikobad, di provinsi Ansar.

Sementara itu para pengemis yang ketakutan akan menjadi korban amukan massa, mengalungkan KTP untuk membuktikan bahwa mereka bukanlah orang asing di daerah dimana mereka beroperasi. Tindakan amuk massa membabi buta ini, menurut Profesor Sosiologi dari Dhaka University Monirul Islam, menunjukkan warga yang tidak percaya akan sistem hukum dan ketertiban di sana.

Namun dia juga tidak mengesampingkan kemungkinan bahwa beberapa orang dengan sengaja mencoba menciptakan kepanikan dan kekacauan dalam masyarakat. Saat ini memang ada proyek pembangunan jembatan terbesar di Bangladesh di kawasan Padma, yang akan melintasi sungai terbesar di negeri itu Sungai Gangga.

Menurut media setempat, kabar bohong mengenai tumbal kepala anak kecil untuk pembangunan jembatan sudah pernah muncul di Bangladesh sebelumnya. Di tahun 2010 beberapa orang juga diserang oleh massa mengenai kabar pembangunan jembatan di tempat lain.

Lihat beritanya dalam bahasa Inggris di sini

AFP

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Disclaimer: Berita ini merupakan kerja sama Republika.co.id dengan ABC News (Australian Broadcasting Corporation). Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi berita menjadi tanggung jawab ABC News (Australian Broadcasting Corporation).
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA