Thursday, 18 Rabiul Akhir 1442 / 03 December 2020

Thursday, 18 Rabiul Akhir 1442 / 03 December 2020

AS Keluarkan Imbauan Perjalanan ke Hong Kong

Kamis 08 Aug 2019 11:21 WIB

Rep: Rossi Handayani/ Red: Ani Nursalikah

Pengunjuk rasa menentang penangkapan rekannya yang berdemo menggunakan laser di Hong Kong, Rabu (7/8). Polisi Hong Kong menggolongkan laser sebagai senjata berbahaya karena bisa merusak mata.

Pengunjuk rasa menentang penangkapan rekannya yang berdemo menggunakan laser di Hong Kong, Rabu (7/8). Polisi Hong Kong menggolongkan laser sebagai senjata berbahaya karena bisa merusak mata.

Foto: AP Photo/Kin Cheung
Demonstran merencanakan unjuk rasa tiga hari di bandara internasional.

REPUBLIKA.CO.ID, HONG KONG -- Amerika Serikat (AS) meningkatkan imbauan perjalanan untuk Hong Kong. Mereka mendesak para pelancong meningkatkan kewaspadaan karena unjuk rasa yang terjadi.

"Protes dan konfrontasi telah meluas ke lingkungan selain di mana polisi telah mengizinkan pawai atau demonstrasi. Demonstrasi ini, yang dapat terjadi dengan sedikit atau tanpa pemberitahuan, kemungkinan akan berlanjut," ujar laporan yang diposting di situs Konsulat Jenderal AS di Hong Kong dan Makau, Rabu (7/8).

Peringatan dinaikkan ke level dua pada skala empat poin. Protes di pusat keuangan Asia dimulai dengan penentangan terhadap undang-undang ekstradisi yang sekarang ditangguhkan. Kemudian telah berkembang menjadi tantangan langsung bagi pemerintah dan menyerukan demokrasi penuh.

Australia juga memperingatkan para pelancong dalam sebuah saran terbaru pada Rabu. Protes menimbulkan tantangan terbesar bagi Presiden China Xi Jinping sejak ia berkuasa pada 2012. Xi juga turut berjuang dalam perang dagang dengan AS dan ekonomi yang melambat.

Kepala kantor Urusan Hong Kong dan Makau China menyatakan, Hong Kong menghadapi krisis terburuk sejak kembali ke China dari kekuasaan Inggris pada 1997. Lebih banyak protes direncanakan di beberapa distrik di seluruh kota akhir pekan ini, dimulai pada Jumat. Demonstran juga merencanakan unjuk rasa tiga hari di bandara internasional kota.

Pemimpin yang diperangi di Hong Kong, Carrie Lam mengunjungi distrik Hong Kong pada Rabu untuk berbicara dengan penduduk. Ia turut memeriksa kantor polisi yang telah menjadi sasaran protes baru-baru ini.

Lam mengatakan dalam sebuah pernyataan setelah kunjungan, pemerintah akan mengajukan langkah-langkah untuk meningkatkan mata pencaharian masyarakat. Para pemuda berada di garis depan protes tentang masalah yang lebih luas. Ini meliputi biaya hidup yang tinggi, dan kebijakan perumahan yang tidak adil lebih condong kepada orang kaya.

Kota yang biasanya efisien dan tertib ini, menjadi lebih berbeda karena jaringan transportasi dikepung, dan ditutup oleh para demonstran. Protes di seluruh kota juga telah menutup toko-toko bermerek besar dan pusat perbelanjaan populer.

Polisi Hong Kong telah menangkap 589 orang semenjak protes dimulai pada Juni, yang termuda berusia 13 tahun. Di samping itu, beberapa ribu pengacara Hong Kong, berpakaian hitam, turun ke jalan menyerukan pemerintah menjaga independensi departemen kehakiman kota.

Mereka khawatir penuntutan para pengunjuk rasa yang ditahan oleh departemen kehakiman lebih cenderung ke arah politik yang semakin meningkat. Banyak dari mereka yang ditangkap telah didakwa dengan kerusuhan, dapat membawa hukuman penjara hingga 10 tahun.

Para pengunjuk rasa mulai menggunakan taktik yang semakin beragam untuk menghindari penangkapan. Mereka bergeser dengan cepat dari satu tempat ke tempat lain, dan menggunakan platform online seperti Telegram untuk mengarahkan ratusan orang.

Mereka juga menyebarkan pamflet-pamflet berwarna cerah untuk para wisatawan menjelang demonstrasi bandara untuk membantu mereka memahami apa yang sedang terjadi. Pamflet itu menyatakan para pemrotes tidak akan pernah menyerah.

"Wisatawan yang terkasih, mohon maafkan kami untuk 'Hong Kong yang tak terduga'.  Anda tiba di kota yang hancur berantakan, bukan kota yang pernah Anda bayangkan. Namun, kota yang Anda bayangkan adalah apa yang kami perjuangkan," sebut pamflet itu.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA