Friday, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Friday, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Proses Check-In di Bandara Hong Kong Dihentikan

Rabu 14 Aug 2019 00:03 WIB

Rep: Rossi Handayani/ Red: Ani Nursalikah

Penumpang telantar di terminal keberangkatan di Bandara Internasional Hong Kong di Hong Kong, Selasa (13/8).

Penumpang telantar di terminal keberangkatan di Bandara Internasional Hong Kong di Hong Kong, Selasa (13/8).

Foto: AP Photo/Vincent Thian
Aksi duduk oleh para pemrotes di bandara Hong Kong semakin panas.

REPUBLIKA.CO.ID, HONG KONG -- Layanan check-in di Bandara Internasional Hong Kong dihentikan pukul 16.30 waktu setempat, Selasa (13/8). Penghentian layanan tersebut sehari setelah penutupan bandara yang belum pernah terjadi sebelumnya saat ribuan demonstran berpakaian hitam menduduki bandara.

Otoritas bandara menunda layanan check-in karena hari kelima aksi duduk oleh para pemrotes semakin memanas. "Operasi terminal di Bandara Internasional Hong Kong telah sangat terganggu akibat pertemuan publik di bandara," kata otoritas bandara.

Cathay Pacific memperingatkan ada potensi gangguan penerbangan lebih lanjut dalam waktu singkat. Regulator penerbangan sipil China menuntutnya menangguhkan staf yang bergabung atau mendukung protes dari penerbangan di wilayah udaranya. Saham maskapai penerbangan tersebut melewati level terendah dalam 10 tahun pada Senin.

Maskapai penerbangan China lainnya telah menawarkan penumpang yang ingin menghindari Hong Kong beralih gratis ke tujuan terdekat, seperti Guangzhou, Makau, Shenzhen atau Zhuhai. Akibat gangguan mengirim saham di Bandara Shenzhen Co Ltd melonjak.

Pada Senin, China menyatakan protes telah mencapai titik kritis. Ini setelah terjadi pada akhir pekan bentrokan di jalan, di mana polisi dan pengunjuk rasa tampaknya memperkuat tekad mereka.

Polisi menembakkan gas air mata ke kerumunan di distrik-distrik di pulau Hong Kong, Kowloon dan Wilayah Baru. Seorang pejabat senior China mengatakan bibit terorisme bermunculan di Hong Kong, memberikan contoh serangan kekerasan terhadap petugas polisi.

Pakar hukum Hong Kong mengatakan, Beijing mungkin membuka jalan untuk menggunakan undang-undang anti-teror untuk menahan para demonstran. "Luangkan waktu sebentar untuk melihat kota kami, rumah kami," kata Pemimpin Eksekutif Hong Kong Carrie Lam dengan suara yang pecah, di sebuah konferensi pers di kompleks kantor pusat pemerintah.

Protes sebelumnya dimulai menentang terhadap RUU yang sekarang ditangguhkan. RUU akan memungkinkan ekstradisi tersangka ke daratan China, tetapi telah melebar ke seruan yang lebih luas untuk demokrasi.

"Maaf atas ketidaknyamanan ini, kami berjuang untuk masa depan rumah kami," tulis salah satu spanduk protes di bandara.

Demonstran mengatakan mereka ingin memerangi pengikisan pengaturan satu negara, dua sistem untuk Hong Kong. Mereka ingin Lam mengundurkan diri. Namun, ia mengatakan akan akan tetap tinggal.

Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA