Saturday, 10 Rabiul Akhir 1441 / 07 December 2019

Saturday, 10 Rabiul Akhir 1441 / 07 December 2019

China: Pengunjuk Rasa Hong Kong Bertindak Seperti Teroris

Rabu 14 Aug 2019 14:33 WIB

Rep: Rossi Handayani/ Red: Ani Nursalikah

Polisi menahan seorang demonstran di Bandara Internasional Hong Kong, Selasa (13/8).

Polisi menahan seorang demonstran di Bandara Internasional Hong Kong, Selasa (13/8).

Foto: AP Photo/Vincent Yu
Kecaman China dikeluarkan setelah dua orang dipukuli oleh demonstran.

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING -- China mengecam pengunjuk rasa di bandara Hong Kong karena tindakan yang disebut serupa teroris. Kecaman dikeluarkan setelah dua orang dipukuli oleh demonstran.

Sekelompok kecil pemrotes mengepung, mengikat, dan memukuli seorang pria. Ia mengenakan rompi kuning wartawan, diidentifikasi oleh editor Times Global yang dikendalikan China. Sedangkan seorang pria lain disebut China merupakan seorang warga Shenzhen yang berkunjung ke Hong Kong.

"Kami menyatakan kecaman terkuat atas tindakan seperti teroris ini," kata Juru bicara di Kantor Urusan Dewan Negara Hong Kong dan Makau, Xu Luying yang menyebut kedua pria itu rekan senegaranya di Cina, dilansir di Channel News Asia, Rabu (14/8)

Pria yang diidentifikasi Xu sebagai penduduk Shenzhen ditahan sekitar dua jam, sebelum akhirnya dibawa dengan ambulans. Aktivis memblokade dua terminal di kota itu pada Selasa, dalam eskalasi terbaru dari krisis politik selama 10 pekan. Di samping itu juga, memaksa penutupan bandara.

Xu mengatakan, tindakan para pemrotes begitu merusak citra internasional Hong Kong dan secara serius melukai perasaan sejumlah besar rekan senegaranya di Cina. Menurutnya, kejahatan kekerasan yang keji harus dihukum berat sesuai dengan hukum.

"Kami dengan tegas mendukung kepolisian dan peradilan Hong Kong untuk secara tegas menegakkan dan membawa para penjahat ke pengadilan sesegera mungkin," kata dia.

Di Hong Kong, selama beberapa pekan aksi unjuk rasa melibatkan jutaan orang turun ke jalan dalam tantangan terbesar terhadap pemerintahan China. Awalnya dipicu oleh oposisi terhadap Rancangan Undang-undang (RUU) yang akan memungkinkan ekstradisi ke China. Kemudian protes dengan cepat berkembang menjadi kampanye yang lebih luas untuk kebebasan demokratis, dan untuk menghentikan pertumbuhan pengaruh China di kota semi-otonom.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA