Saturday, 10 Rabiul Akhir 1441 / 07 December 2019

Saturday, 10 Rabiul Akhir 1441 / 07 December 2019

Hong Kong Tutup Empat Stasiun Bawah Tanah

Sabtu 24 Aug 2019 18:55 WIB

Red: Ani Nursalikah

Bentrokan terjadi antara polisi dan demonstran dalam aksi protes di Hong Kong, Sabtu (24/8). Lebih dari 1.000 orang berkumpul di kawasan industri Kwun Tong, Hong Kong untuk menggelar aksi protes lanjutan.

Bentrokan terjadi antara polisi dan demonstran dalam aksi protes di Hong Kong, Sabtu (24/8). Lebih dari 1.000 orang berkumpul di kawasan industri Kwun Tong, Hong Kong untuk menggelar aksi protes lanjutan.

Foto: AP Photo/Vincent Yu
Pihak berwenang telah mendapat perintah pengadilan mencegah unjuk rasa di bandara.

REPUBLIKA.CO.ID, HONG KONG -- Lembaga pengelola layanan kereta Hong Kong menutup empat stasiun kereta bawah tanah menjelang aksi protes, Sabtu (24/8). Langkah itu sebagai antisipasi menghadapi kemungkinan kerusuhan lebih lanjut.

Pihak berwenang telah mendapatkan perintah pengadilan untuk mencegah aksi unjuk rasa di bandara. Bandara terpaksa ditutup, antara lain karena pekan lalu para demonstran memadati terminal utama selama beberapa hari hingga mengakibatkan sekitar 1.000 penerbangan dibatalkan. Para pengunjuk rasa juga bentrok dengan polisi.

Stasiun-stasiun kereta bawah tanah itu ditutup di salah satu jalur, yang diperkirakan akan dijadikan titik pelaksanaan aksi unjuk rasa di Kwung Tong di Semenanjung Kowloon. Toko-toko di stasiun-stasiun tersebut juga ditutup.

Penutupan stasiun kereta oleh pengelola layanan, MTR Corporation, dilakukan setelah MTR dihujani kritik di media negara China, termasuk People's Daily. Surat kabar tersebut adalah corong Partai Komunis. MTR dianggap membiarkan para perusuh kabur naik kereta setelah mereka bentrok dengan polisi.

Sementara itu, karyawan Konsulat Inggris bernama Simon Cheng telah dibebaskan pada Sabtu sesuai jadwal. Cheng sekarang sudah kembali ke Hong Kong, kata keluarganya di halaman Facebook.

Cheng ditahan selama 15 hari karena melanggar aturan keamanan umum, kata kepolisian di Shenzhen melalui Weibo, media sosial sejenis Twitter. Tidak ada keterangan rinci soal penahanan anggota staf konsulat tersebut.

Baca Juga

Sebuah tulisan di Facebook memuat permintaan agar media dan teman-teman memberikan waktu dulu. Penjelasan rinci akan diberikan nanti. Sejumlah pengunjuk rasa dalam beberapa hari terakhir ini juga menuntut agar Cheng dibebaskan.



sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA