Monday, 17 Muharram 1441 / 16 September 2019

Monday, 17 Muharram 1441 / 16 September 2019

Sebut 300 Juta Muslim Radikal, Kampus Melbourne Islamofobia?

Selasa 10 Sep 2019 01:10 WIB

Red:

abc news

abc news

Kutipan itu berasal dari pernyataan seorang aktivis yang memang dikenal anti-Muslim.

Tayeba Quddus terkejut ketika ia melihat materi kuliah soal keberagaman yang menyebutkan saat "sebagian Muslim damai", ada hingga 300 juta Muslim yang termasuk "radikal yang ingin merusak dan membunuh".

Kutipan tersebut berasal dari pernyataan seorang aktivis yang memang dikenal sebagai seorang anti-Muslim dan membuat Tayeba merasa "kecil hati" dan bingung dengan apa yang ia sebut sebagai "sikap kebencian yang memuakkan".

"Mengingat apa yang terjadi di Christchurch, dan gerakan ekstremisme sayap kanan yang ada, serta kampanye politik yang berusaha menjelekkan sebagian besar Muslim, sangatlah tidak membantu mengeluarkan pernyataan-pernyataan tersebut di saat iklim sekarang ini, yang justru mendukung gerakan-gerakan tersebut," ujar Tayeba.

Mahasiswi berusia 26 tahun itu sebelumnya sudah terganggu saat diskusi di salah satu mata kuliah di Holmesglen Insititute di Melbourne. Ia mengaku para mahasiswa diizinkan berbagi pemikiran mereka yang justru klise dan palsu tentang Muslim.

Ia pernah mengadukan hal ini kepada dosennya, yang kemudian menerimanya, tapi tetap memuatnya sebagai materi kuliah online.

 

Tidak puas dengan sikap dosennya, ia mengadukan masalah ini ke 'Victorian Equal Opportunity' dan 'Human Rights Commission'.

Tak lama setelah itu, Holmesglen Institute menurunkan materi kuliah online tersebut dan menyatakan permohonan maaf. Mereka juga berjanji untuk memberikan pelatihan kepada para dosen terkait hal ini.

Dalam sebuah pernyataan kepada ABC, Holmesglen Institute mengatakan materi kuliah tersebut "tidak pantas". Materi kuliah tersebut juga sudah diunggah ke portal online siswa, tapi belum disampaikan dalam mata kuliah. Mereka akhirnya memutuskan menghapusnya setelah penyelidikan atas keluhan Tayeba.

"Kami telah memanggil yang dilaporkan untuk mengakuinya dan mengeluarkan permintaan maaf atas apa yang telah dilakukan ," kata pernyataan itu.

"Para dosen yang terlibat untuk sementara dihentikan dari kegiatan mengajar sampai investigasi selesai."

 

Tayeba mengaku dirinya berani mengangkat masalah ini karena khawatir mahasiswa Muslim lainnya mungkin, atau bahkan sudah, "menutup mulut mereka" oleh pandangan-pandangan yang dianggapnya negatif, yang dilontarkan mahasiswa lain atas nama "kebebasan berpendapat".

"Ini bukan tentang kebebasan berbicara atau mencoba mengawasi apa yang orang-orang katakan," katanya.

"Saya pikir ini lebih soal masalah dosen yang mempublikasikan materi yang menyebarkan ketakutan secara online, yang tidak memiliki bukti, serta faktanya bahwa ini tak sepantasnya diucapkan oleh seorang dose.

Kampanye anti-Islam dikutip kuliah

Slide yang ditampilkan sebagai bahan kuliah tersebut rencananya akan disampaikan dalam topik "mengelola keanekaragaman dalam lingkungan budaya yang kompeten", yang merupakan bagian dari program sertifikasi di bidang pekerja anak muda dan alkohol serta rokok.

Dalam slide tersebut yang berjudul "Most Muslim Is Peace", sebuah tautan YouTube membawa para mahasiswa ke sebuah video yang diterbitkan tahun 2017, dan menampilkan aktivis anti-Islam terkemuka Brigitte Gabriel.

Brigitte adalah pendiri ACT For America, sebuah organisasi yang oleh banyak kritikus, seperti Southern Poverty Law Centre, sebagai kelompok yang menyebarkan kebencian dan organisasi anti-Muslim terbesar AS.

Perempuan tersebut pernah tmenulis jika "di dunia Muslim, mayoritasnya adalah ekstrem". Ia juga sudah sering dituduh menyebarkan pandangan menyimpang tentang Islam.

 

Dalam video yang tersebar secara online, Brigitte mengklaim badan intelijen di seluruh dunia memperkirakan Muslim "radikal" berjumlah antara 15 hingga 25 persen.

"Itu artinya 75 persen dari mereka adalah Muslim yang damai," katanya.

"Tapi ketika Anda melihat angka 15 hingga 25 persen dari populasi Muslim dunia, artinya ada 180 juta hingga 300 juta orang yang hendak menghancurkan peradaban barat."

Teks dalam slide yang menjadi bahan kuliah di Holmesglen Institute memuji pernyataan Brigitte dengan mengatakan "tanggapannya sangat sempurna".

"Faktanya adalah, 180 juta hingga 300 juta orang adalah radikal yang ingin menghancurkan dan membunuh. Anda tidak dapat mengabaikan angka-angka itu," seperti yang tertulis dalam materi kuliah tersebut.

'Fakta' yang dikutip tidak benar

Profesor Universitas Deakin, Greg Barton, pakar politik global Islam mengatakan Brigitte Islam Global, mengatakan bahwa Gabriel adalah "tipe orang seperti Pauline Hanson di bidang penelitian".

Menurut Professor Barton, orang-orang seperti Brigitte "tidak hanya Islamofobia, tetapi mereka membuat kesalahan dengan menggabungkan 1,8 miliar orang menjadi satu kelompok yang tidak berbeda atau mengklaim kebanyakan dari mereka mendukung rezim otoriter dan politik di negara mereka" .

"Dan itu jelas tidak akurat dan salah paham melihat penderitaan umat Islam di seluruh dunia, di mana orang-orang terjebak dengan pemerintah yang tidak mereka sukai. Akibatnya ada kelompok-kelompok radikal tetapi mereka tidak populer secara luas."

Professor Barton mengatakan klaim Brigitte tentang Muslim "radikal" tidaklah benar.

 

"Ada sejumlah kecil orang yang mencari uang dari menjelek-jelekkan Islam dan Muslim, beberapa dari mereka berasal dari dunia akademis dan beberapa lainnya yang tidak," kata Professor Barton.

"Jadi, Anda menemukan misalnya ... pemungutan suara untuk pertanyaan yang seringkali diajukan di negara mayoritas Muslim, 'Apakah Anda mendukung hukum Islam?'

Bagi kebanyakan orang, itu seperti menanyakan dari latar belakang Kristen, 'Apakah Anda mendukung Sepuluh Perintah Tuhan?', Jawabannya adalah 'tentu saja', Anda tidak bisa mengatakan tidak.

"Seperti berkesimpulan mereka akan mendukung pemerintah Islam atau akan mendukung hukuman hudud [hukuman keras untuk pelanggaran agama termasuk rajam dan ptpong tangan]."

'Bukan bahan pengajaran'

Dalam korespondensi pertama Tayeba dengan pihak kampusya, seperti yang dilihat oleh ABC, institut tersebut menyarakan akan ada "kontekstualisasi dan diskusi" saat membahas materi di kelas.

Menurutnya diskusi apa pun tidak akan membenarkan masalah tersebut bisa dimasukkan ke dalam materi kuliah.

"Apa yang saya rasakan dari membaca ide itu adalaah tidak ada ruang untuk mendisuksikannya secara objektif."

"Lebih seperti disampaikan mengajarkan ide-ide ini."

"Saya tidak benar-benar melihat konteks diman180 hingga 300 juta Muslim menjadi radikal".

Saya akan mengatakan bahwa tidak ada konteks di mana Anda dapat menggunakan aktivis anti-Islam yang tidak akademis. Ini bukan sumber pengajaran di kelas.

 

"Tidak ada slide lain yang bicara tentang Islamofobia, tidak ada sumber daya aktivis anti-Islamofobia. Anda menggunakan seorang aktivis anti-Islam dan kemudian menindaklanjuti dengan pernyataan ini. Saya tidak berpikir ada sesuatu di sana yang ambigu.

"Saya pikir dalam kata-kata dosen itu sendiri, dikatakan, 'faktanya adalah 180 hingga 300 juta orang Muslim adalah radikal yang ingin menghancurkan dan membunuh'. Tidak ada ruang untuk interpretasi. Itu hanya sebuah pernyataan."

Slide lain dalam presentasi yang sama, yang berjudul "Serangan Teroris," diberi judul dari halaman Wikipedia yang secara spesifik membahas serangan teroris Islam.

Merasa perlu 'membela' dirinya sebagai Muslim

Tayeba memutuskan untuk mengambil tindakan karena hal tersebut bukan pertama kalinya yang ia alami, dimana ia dipinggirkan sebagai Muslim di mata kuliah tersebut.

Di minggu pertama, ia mengaku teman mahasiswanya mengatakan ada "gerakan besar" di Inggris untuk memberlakukan hukum syariah yang "menakutkan", dan beberapa "ideologi ekstremisme yang lebih membahayakan daripada yang lain".

Ia mengatakan dosennya "tidak campur tangan atau mencoba mengarahkan diskusi" saat klaim Islamophobia dibuat. Dia merasa perlu "membela dirinya" sendiri sebagai seorang Muslim, sesuatu yang biasanya tidak perlu dilakukan.

"Saya tidak melihat orang-orang di kelas tersebut bisa bekerja dengan orang-orang dari beragam latar belakang, jika mereka berbagi pemikiran Islamofobia yang terang-terangan, dan mengompori pada pemikiran-pemikiran yang sudah cukup negatif di masyarakat."

Bahkan saat ia membantah klaim yang salah, dia disanggah, dan membuatnya ragu dan gugup untuk menyampaikan pemikirannya di kelas-kelas berikutnya. "Saya khawatir dengan apa yang saya katakan sejak saat itu karena takut disangka sebagai seorang Muslim yang marah atau yang defensif."

"Saya merasa sangat gugup dengan kelas yang terus-terusan menargetkan saya dan orang lain mungkin akan merasakan hal yang sama."

Janji jadikan insiden sebagai 'katalis'

Dirketur eksekutif Holmesglen Insititue, Mary Faraone, mengatakan lembaganuya telah mengambil langkah-langkah untuk mengatasi masalah ini dan mencegahnya terjadi lagi.

"Holmesglen menggunakan insiden ini sebagai katalis untuk meninjau lebih lanjut pengembangan profesionalnya dalam keanekaragaman, keamanan budaya, dan kompetensi dengan pendidik Institut," katanya.

"Kami menyambut baik kesempatan untuk menerima masukan, menilai, dan menindaklanjutinya untuk meningkatkannya."

"Ini adalah upaya yang berkelanjutan dan kami ingin memastikan bahwa semua mahasiswa, staf, dan pemangku kepentingan yang lebih luas dari komunitas Holmesglen mempelajarinya secara inklusif dan di tempat yang berkomitmen untuk sikap positif."

Tayeba sedang memasuki tahap mediasi dengan lembaga tetapi khawatir bukan hanya pengalamannya saja yang terisolasi.

"Saya pikir ada sesuatu yang salah secara sistematis yang membuat ini terjadi," katanya.

"Menurutku ini hanyalah puncak dari gunung es."

Artikel ini dirangkum dari laporan Bahasa Inggris yang bisa dibaca di sini.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
Disclaimer: Berita ini merupakan kerja sama Republika.co.id dengan ABC News (Australian Broadcasting Corporation). Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi berita menjadi tanggung jawab ABC News (Australian Broadcasting Corporation).
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA