Kamis, 18 Safar 1441 / 17 Oktober 2019

Kamis, 18 Safar 1441 / 17 Oktober 2019

Kekeringan, Kanguru Makan Tisu Toilet dan Bangkai Kanguru

Senin 07 Okt 2019 13:04 WIB

Red:

Kawanan kanguru di kawasan Pinnacle Reserve.

Kawanan kanguru di kawasan Pinnacle Reserve.

Foto: abc
Kekeringan telah memaksa kanguru di sejumlah wilayah Australia memakan bangkai

Kekeringan telah memaksa kanguru di sejumlah wilayah Australia memakan isi perut dari bangkai kangguru lainnya karena tanaman yang menjadi sumber makanan mereka mati.

Pakar lingkungan di Australia mengatakan jutaan kanguru terancam mati karena kekeringan parah yang melanda sejumlah wilayah khususny di kawasan Timur Australia.

Ahli ekologi independen John Read mengatakan, kekeringan yang berkepanjangan menyebabkan kematian satwa ini dalam skala yang besar.

"Kami telah melihat kematian kanguru besar selama 12 bulan terakhir," kata Dr Read.

"Di seluruh Australia tengah, jutaan kanguru pada dasarnya mati kelaparan dan orang-orang akan semakin sering melihat kanguru mati di jalan."

 

Pakar Ekologi dari Universitas New South Wales di Sydney Katherine Moseby mengatakan dirinya pernah menyaksikan kanguru sangat kesulitan mencari makanan di banyak kawasan di Australia.

"Musim panas lalu, kami mengalami kematian kanguru besar-besaran di semua area tempat saya bekerja di zona gersang, tetapi, khususnya, beberapa area di Flinders Ranges di Australia Selatan," kata Dr. Moseby.

"Kami melihat kanguru mendatangi toilet umum dan memakan tisu toilet."

"Kami bahkan pernah menyaksikan mereka memakan isi perut kanguru yang mati di pinggir jalan, mereka mencoba mendapatkan nutrisi dari bangkai kanguru. Pemandangan yang cukup mengerikan untuk dilihat.

"Dampak kekeringan misalnya mulai terasa di Cagar Alam Arkaroola di Australia Selatan yang menjadi rumah bagi sejumlah satwa ikonik Australia seperti walabi batu berkaki kuning, yang diklasifikasikan sebagai hampir terancam.

Manajer Vicki-Lee Wilson mengatakan beberapa sumber air minum satwa di kawasan itu telah mengering untuk pertama kalinya sejak pencatatan dimulai.

"Ada beberapa mata air yang kami pikir akan tersedia selamanya, tapi sekarang telah kering selama satu setengah tahun," katanya.

"Air yang tersisa di lubang air benar-benar keruh, kondisinya mengerikan."

Menyikapi hal ini pengelola cagar alam menyediakan sumber air minum buatan untuk satwa di kawasan itu.

Tanaman ratusan tahun meranggas

 

Selain satwa khas Australia, kekeringan juga mengancam pohon-pohon tua di Australia Selatan.

Dr Read mengatakan dia telah melihat pohon akasia, pinus, dan cendana yang berumur berabad-abad meranggas di Australia Selatan selama gelombang panas.

"Beberapa dari mereka telah hidup selama ratusan tahun dan pada awal tahun ini banyak dari pohon purba itu mati, ini benar-benar mengejutkan," kata Dr Read.

Dr Read mengatakan meski fenomena matinya tanaman purba karena tekanan udara panas selama musim kekeringan ini bukanlah hal baru, dia dan ilmuwan lain mengkhawatirkan bagaimana perubahan iklim akan mempengaruhi kekeringan dan bentang alam Australia.

"Banyak orang, termasuk saya, benar-benar sangat khawatir bahwa apa yang kita lihat dalam beberapa tahun terakhir ini adalah sesuatu yang ekstrim," katanya.

"Beberapa pohon ini telah ada selama 500, 600 tahun dan mereka harus hidup lebih lama juga.

"Ketika mereka meranggas itu menunjukkan kondisi yang ekstrim seperti yang mereka alami selama beberapa ratus tahun terakhir.

"Itu benar-benar memperkuat fakta bahwa kita semacam berada di perairan yang belum dipetakan sekarang."

Sementara kanguru berjuang melawan kekeringan di negara-negara bagian timur, di Australia Barat, jumlahnya justru meningkat.

Hal ini dikarenakan dampak kekeringan di Australia Barat tidak terlalu parah seperti di negara bagian lain.

Diterbitkan ulang dari artikel ABC News

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Disclaimer: Berita ini merupakan kerja sama Republika.co.id dengan ABC News (Australian Broadcasting Corporation). Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi berita menjadi tanggung jawab ABC News (Australian Broadcasting Corporation).
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA