Tuesday, 15 Rabiul Awwal 1441 / 12 November 2019

Tuesday, 15 Rabiul Awwal 1441 / 12 November 2019

Kisah Wanita Afghanistan yang Kini Tinggal di Canberra

Sabtu 09 Nov 2019 20:26 WIB

Rep: Alexandra Alvaro/ Red:

.

.

Ketika Farishta Arzoo pindah ke Australia empat tahun lalu banyak rintangan dihadapi

Ketika Farishta Arzoo pindah ke Australia empat tahun lalu, dia harus melewati banyak rintangan - belajar bahasa Inggris, kursus di sekolah kejuruan dan membangun kehidupan baru di sebuah negara baru.

Dan sekarang Arzoo sedang bersiap menghadapi salah satu tantangan fisik yang besar - ikut lomba maraton.

Arzoo adalah salah seorang peserta dalam Proyek Maraton Pengungsi, sebuah program yang melatih para pengungsi untuk ikut di Australian Running Festival.

Walau belum pernah mengikuti lomba lari sebelumnya, Arzoo berusaha keras untuk menyelesaikan maraton sepanjang 42 km tersebut, sesuatu hal yang tidak bisa dilakukannya di negeri asalnya Afghanistan.

"Di negeri asal saya dulu saya ingin sekali melakukan kegiatan olahraga, namun saya tidak bisa melakukanya." katanya.

"Ini bukan sekedar masalah keamanan saja, bahwa kami tidak bisa keluar rumah dan berolahraga."

 

Farishta Arzoo merasa bersyukur mendapat kebebasan untuk melakukan apa yang ingin dilakukannya di Australia.

"Saya bersyukur. Saya merasa percaya diri dan santai." katanya.

"Saya merasa aman, itu yang penting bagi saya. Saya merasa aman kemanapun saya pergi."

Berolahraga sambil mendapatkan teman baru

Proyek Maraton Untuk Pengungsi ini merupakan inisiatif dari Cassie Cohen yang tinggal di Canberra yang memulai kelompokl ini tahun lalu.

Dia melihat bahwa kelompok lari akan menjadi tempat yang bagus bagi para pengungsi dan migran baru untuk mendapatkan teman-teman baru.

Para pengungsi dan anggota baru akan disandingkan dengan mentor yang akan memberikan informasi mengenai gizi, cara berlatih dan memperkuat motivasi.

 

"Komunitas jogging sangat membantu. Saya mendapat banyak manfaat dari komunitas dan saya berpikir pasti ini juga akan bermanfaat bagi para pengungsi dan migran baru." kata Cohen.

"Saya kira semua saling memberi mendapat dan memberi manfaat."

Dan Cohen berharap program ini akan memiliki lebih banyak peserta dari berbagai kalangan tahun ini.

"Kami berusaha mendapatkan lebih banyak perempuan, karena saya tahu betapa pentingnya bagi perempuan untuk terlibat dalam komunitas mereka." katanya.

Dari 5 km ke 42 km

Banyak dari peserta tahun lalu adalah pria asal Afghanistan.

Salah seorang diantaraanya adalah Zaki Haidari yang datang ke Australia sebagai pencari suaka di tahun 2012.

 

Dia hanya mampu berlari lima menit tanpa henti ketika pertama kali ikut program ini.

Sekarang dia menjadi anggota kelompok yang paling bersemangat di Canberra tersebut.

"Di 10 km terakhir, rasanya seperti mau mati. Saya tidak sabar untuk masuk finish agar saya bisa merebahkan diri di rumput." katanya sambil tertawa.

"Tetapi ini pengalaman yang mengesankan, dari lari lima km bisa kemudian menyelesaikan maraton 42 km."

 

Tahun ini Hadari akan menjadi mentor dan menemani Arzoo berlatih sehingga keduanya akan bisa menyelesaikan lari maraton mereka.

"Tidak ada kata-kata yang bisa digunakan untuk menggambarkan, namun bisa berlatih dan ikut berlari di sini sudah merupakan hal yang luar biasa." kata Arzoo.

Lihat artikelnya dalam bahasa Inggris di sini

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Disclaimer: Berita ini merupakan kerja sama Republika.co.id dengan ABC News (Australian Broadcasting Corporation). Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi berita menjadi tanggung jawab ABC News (Australian Broadcasting Corporation).
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA