Friday, 16 Rabiul Akhir 1441 / 13 December 2019

Friday, 16 Rabiul Akhir 1441 / 13 December 2019

Wisata Habbaniyah, Resor Favorit Elite Irak Hingga Saddam

Selasa 19 Nov 2019 14:57 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Nashih Nashrullah

Habbaniyah Irak

Habbaniyah Irak

Foto: Aljazirah
Wisata Habbaniyah kini berusaha bangkit dari keterpurukan.

REPUBLIKA.CO.ID, HABBANIYAH – Hamed Salama Ali baru berusia 21 tahun pada 1985 ketika meninggalkan tanah kelahirannya di Mesir dan melakukan perjalanan ke Irak untuk mencari pekerjaan. Pria muda dari Mansoura ini mendapat pekerjaan di Desa Wisata Al Habbaniyah yang baru dibuka.  

Baca Juga

Hari ini, Ali yang kini berusia 55 tahun adalah saksi langsung tentang kekayaan tempat itu dan berkurangnya pengunjung resor, di mana dia masih menjadi karyawan yang setia. "Dari 1981 hingga 1988, itu seperti zaman keemasan resor," ujarnya.

Sekitar 90 km barat Baghdad, di Provinsi Anbar, Habbaniyah adalah sebuah oasis yang sunyi. Tempat ini dirancang menyerupai desa tepi laut Prancis, dengan rumah-rumah penuh warna yang menghiasi tepi danau.  

Ketika terbuka untuk umum pertama kali pada 1981, itu menandai satu dekade perkembangan pesat dan kemakmuran finansial di Irak. Dengan 300 kamar hotel dan 500 bungalow, Habbaniyah menjadi tempat liburan favorit bagi para selebriti dan politisi lokal dan internasional. 

Mantan Presiden Saddam Hussein dan keluarganya bahkan sering menikmati waktu di vila putih pribadi yang masih dapat dilihat bertengger di semenanjung terpencil.

Pada 1980-an, para tamu disuguhi masakan lokal dan internasional di meja panjang yang dilapisi linen putih dan diterangi cahaya lilin, sementara band-band asing bermain semalaman. 

Para tamu memesan kamar malam tahun baru mereka berbulan-bulan sebelumnya dan selebriti seperti aktris Mesir Soad Hosny dan penyanyi Irak Kadim Al Sahir adalah pengunjung tetap. 

Untuk segelintir elite Irak yang terpilih, pada 1980-an adalah masa kemewahan dan resor Habbaniyah menjadi pusatnya. Bahkan perang Iran-Irak selama delapan tahun dan kebijakan penghematan Hussein tidak mampu menembus kemegahan Habbaniyah.

Pada 1989, sebuah organisasi Perancis memberi penghargaan Golden Trophy Resort untuk tempat liburan terbaik di Timur Tengah. Hadiah itu masih dengan bangga ditampilkan di meja manajer.

Namun, Pada 1990, Saddam Hussien memerintahkan pasukan militernya untuk menginvasi Kuwait, yang membuat Perserikat Bangsa-Bangsa (PBB) menjatuhkan sanksi yang menghancurkan terhadap Irak. Hiperinflasi mengikuti, seiring dengan meluasnya kemiskinan dan, bagi Habbaniyah, terjadi penurunan pelanggan.

Jumlah terus menyusut setelah perang 1991, terlebih lagi ketika Hussein melarang warga Irak minum alkohol di ruang publik dan Muslim untuk menjualnya. "Ini sangat mempengaruhi pariwisata di sini di resor," kata Ali.

Pad 2003, setelah invasi Amerika Serikat dan jatuhnya rezim Hussein, sanksi dicabut dan beberapa klien mulai kembali. Tetapi, eksklusivitas yang pernah menjadi ciri resor telah menghilang, karena menurunkan standar masuk untuk menarik lebih banyak pengunjung dan meningkatkan pendapatan.

"Dari 2003 hingga 2013, kami menerima banyak orang. Tetapi tingkat pendidikan dan tingkat kelas berbeda. Kami dulu menerima politisi dan selebritas, tetapi setelah 2003, siapa pun bisa datang. Menyedihkan bagi saya," ujar Ali. 

Tetapi kebangkitan wisatawan pasca-perang berakhir dengan munculnya ISIS pada 2014. Setahun kemudian para wisatawan telah pergi dan Habbaniya meledak dengan 24 ribu pengungsi Irak.

Perhotelan yang dulu digunakan untuk berlibur, telah menjadi tempat yang aman bagi puluhan ribu warga sipil yang putus asa. Setelah tiga tahun, pemerintah Irak mengumumkan perang melawan ISIS telah dimenangkan. 

Sementara sebagian besar pengungsi itu kembali ke rumah, lebih dari 1.000 orang masih mendekam di tenda hanya sepelemparan batu dari hotel mewah.

Tahun ini, Muayed Mshwaah ditunjuk sebagai manajer dan ditugaskan untuk merehabilitasi resor. Dia mulai dengan meminta Kementerian Kebudayaan untuk mempersiapkan daerah untuk wisatawan. "Kami membersihkan, membuang sampah dan puing-puing dari rumah dan pantai. Ada kehancuran di mana-mana," kata Mshwaah dikutip dari Aljazirah, Sabtu (16/11).  

Meskipun rintangan tidak pernah berakhir, Mshwaah menyatakan, Habbaniyah masih menjadi tujuan liburan bagi orang Irak, menarik sekitar 5.000 pengunjung setiap pekan. "Ini bukan tentang uang, ini tentang orang-orang yang bertemu di sini antara budaya dan provinsi yang berbeda dan agama lain," katanya. Dwina Agustin

 

 

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA