Tuesday, 3 Jumadil Akhir 1441 / 28 January 2020

Tuesday, 3 Jumadil Akhir 1441 / 28 January 2020

Pencarian Korban dan Evakuasi di White Island Diteruskan

Kamis 12 Dec 2019 16:00 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Christiyaningsih

Kepolisian Selandia Baru akan meneruskan pencarian dan evakuasi di White Island. Ilustrasi.

Kepolisian Selandia Baru akan meneruskan pencarian dan evakuasi di White Island. Ilustrasi.

Foto: Michael Schade/EPA
Kepolisian Selandia Baru akan meneruskan pencarian dan evakuasi di White Island

REPUBLIKA.CO.ID, WELLINGTON -- Kepolisian Selandia Baru akan meneruskan proses pencarian korban dan evakuasi di White Island. Pencarian dan evakuasi akan dilanjutkan pada Jumat (13/12) esok.

"Saya dapat mengonfirmasi bahwa kami sedang menyelesaikan rencana untuk mengevakuasi jenazah dari Whakaari atau White Island besok pagi," ujar Wakil Komisaris Polisi John Tims dalam sebuah pernyataan, Kamis (12/12).

Aktivitas gunung berapi di White Island sangat fluktuatif dan diperkirakan akan terjadi erupsi susulan dalam beberapa hari ke depan. Walikota Whakatane Judy Turner mengatakan tidak ada tanda-tanda kehidupan di pulau tersebut setelah bencana erupsi terjadi.

“Rasa frustrasi dari keluarga-keluarga yang paling terkena dampak sepenuhnya dapat dipahami. Tidak ada berita bukanlah kabar baik bagi orang-orang dalam situasi ini," kata Turner.

Gunung berapi di White Island meletus pada Senin lalu dan memuntahkan abu serta uap panas di pulau tersebut. Ketika erupsi terjadi, terdapat 47 orang yang sedang berwisata di pulau itu. Sebanyak 24 diantaranya berasal dari Australia, sembilan dari Amerika Serikat, lima dari Selandia Baru, empat dari Jerman, masing-masing dua dari China dan Inggris, serta satu dari Malaysia.

Ahli vulkanologi di badan sains geologi Selandia Baru, Nico Fournie, mengatakan peralatan pemantauan yang masih aktif di pulau itu menunjukkan risiko erupsi lebih lanjut selama 24 jam ke depan, antara 50 persen hingga 60 persen. Apabila terjadi letusan susulan, maka gunung berapi tersebut akan memuntahkan bebatuan serta abu vulkanik dengan suhu lebih dari ratusan derajat celcius.

"Kami percaya bahwa ada magma dangkal, batuan cair, yang mendorong aktivitas di bawah permukaan dengan tingkat getaran yang meningkat," kata Fournier.

Baca Juga

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA