Ahad 14 Mar 2021 19:15 WIB

Protes Myanmar Tewaskan Lagi Lima Pendemo

Lebih dari 80 orang tewas dalam protes menentang kudeta militer Myanmar.

Rep: Fergi Nadira/ Red: Nidia Zuraya
Para pengunjuk berhadapan dengan pasukan anti huru hara selama protes anti-kudeta di Yangon, Myanmar pada 9 Maret 2021.
Foto: anadolu agency
Para pengunjuk berhadapan dengan pasukan anti huru hara selama protes anti-kudeta di Yangon, Myanmar pada 9 Maret 2021.

REPUBLIKA.CO.ID, YANGON -- Aparat keamanan Myanmar menembaki para pengunjuk rasa damai di ibu kota komersial Yangon, Ahad (14/3) waktu setempat. Sekurangnya lima orang dilaporkan tewas dalam aksi massa yang ditentang keras oleh militer.

Video yang diambil dari situs media lokal menunjukkan para pengunjuk rasa memegang perisai buatan tangan dan mengenakan helm saat menghadapi aparat keamanan di distrik kota Hlaing Tharyar. Gumpalan asap hitam melambung di atas area tersebut.

Baca Juga

The Irrawaddy melaporkan tiga orang tewas di Yangon. Sementara sekurangnya dua orang terbunuh di kota lain.

Saksi mata juga menuturkan seorang pemuda pria ditembak mati di kota Bago, dekat Yangon. Media lokal Kashin Wave mengatakan, seorang pengunjuk rasa tewas di kota Hpakant, didaerah pertambangan batu giok yang juga dipenuhi aksi demo.

Menurut Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik, lebih dari 80 orang tewas dalam protes menentang kudeta selama 41 hari sejak militer menguasai pemeirntahan dan menangkap pemimpin sipil Aung San Suu Kyi. Sementara lebih dari 2.100 orang ditahan.

Politisi Partai Liga Nasional untuk demokrasi (NLD), Mahn Win Khain Than berbicara kepada publik melalui Facebook pada Sabtu yang mengatakan, "Ini adalah momen paling gelap bangsa dan saatnya fajar menyingsing."

Dia mengatakan pemerintah sipil akan berusaha untuk membuat undang-undang yang diperlukan sehingga rakyat memiliki hak untuk membela diri terhadap tindakan keras militer. Kotapraja Monywa di Myanmar pun tengah menyatakan telah membentuk pemerintah daerah dan kepolisiannya sendiri.

Di Yangon, ratusan orang berdemonstrasi di berbagai bagian kota setelah memasang barikade kawat berduri dan karung pasir untuk memblokir pasukan keamanan pada Ahad. Di satu daerah, orang-orang melakukan protes duduk di bawah lembaran terpal yang dipasang untuk melindungi mereka dari terik matahari tengah hari. "Kami membutuhkan keadilan," teriak mereka.

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement