Kamis 22 Apr 2021 13:19 WIB

Polisi Rusia Tangkap Ribuan Demonstran Dukung Navalny

Oposisi sebut langkah pemerintah Rusia adalah bentuk represi.

Rep: Dwina Agustin/ Red: Teguh Firmansyah
Pemimpin oposisi Rusia Alexei Navalny.
Foto: AP / Alexander Zemlianichenko
Pemimpin oposisi Rusia Alexei Navalny.

REPUBLIKA.CO.ID, MOSKOW -- Polisi menangkap lebih dari 1.400 pengunjuk rasa pada Rabu (21/4). Para warga Rusia di puluhan kota mengambil bagian dalam aksi unjuk rasa yang diselenggarakan oleh sekutu kritikus Kremlin, Alexei Navalny.

Kelompok yang memantau protes dan penahanan, OVD-Info, mengatakan 1.496 orang telah ditangkap, termasuk 662 di St. Petersburg dan 95 di kota Ufa, Ufa. Polisi mengatakan 6.000 orang melakukan protes secara ilegal di Moskow. Sementara saluran YouTube Navalny mengatakan jumlah peserta yang ikut unjuk rasa di ibu kota meningkat 10 kali lipat.

Baca Juga

Juru bicara Navalny, Kira Yarmysh, dan sekutunya, Lyubov Sobol, ditahan ditangkap di rumah mereka di Moskow beberapa jam sebelum unjuk rasa di ibu kota. Yarmysh kemudian dipenjara selama 10 hari pada sidang karena menghasut orang untuk melakukan protes. Sobol dibebaskan menjelang sidang pada Kamis (22/4).

"Ini adalah represi. Ini tidak dapat diterima. Kita perlu memerangi kegelapan ini," ujar pembantu Navalyn, Ruslan Shaveddinov.

Pihak oposisi berharap aksi unjuk rasa itu akan menjadi yang terbesar dalam sejarah Rusia modern. Aksi ini sebagai upaya untuk menyelamatkan nyawa Navalny dengan membujuk pihak berwenang agar mengizinkan dokter pribadi untuk merawatnya.

Para pengunjuk rasa di pusat kota Moskow meneriakkan, "Bebaskan Navalny!" dan "Biarkan dokter masuk!". Istri Navalny, Yulia, bergabung dalam unjuk rasa di ibu kota, tempat para demonstran meneriakkan namanya.

"Ini adalah salah satu desahan terakhir dari Rusia yang merdeka, seperti yang dikatakan banyak orang. Kami keluar untuk Alexei ... melawan perang di Ukraina dan propaganda liar," kata Marina, seorang mahasiswa di protes Moskow.

Lusinan van polisi dikerahkan ke pusat kota Moskow. Alun-alun tempat para aktivis ingin berkumpul ditutup dengan penghalang logam, seperti Lapangan Merah.

Sekitar 300 orang melakukan protes di Vladivostok, beberapa membawa spanduk bertuliskan "Kebebasan bagi tahanan politik" dan "Tidak ada perang, penindasan dan penyiksaan!". Di tempat lain, polisi anti huru hara menggunakan kekerasan untuk melakukan penangkapan. Di Magadan, di ujung timur Rusia, petugas memaksa seorang pria ke tanah dan menarik lengannya ke belakang.

Jaringan aktivis Navalny menghadapi tekanan yang memuncak. Jaksa penuntut negara di Moskow memulai langkah hukum pekan lalu untuk melarang kelompoknya sebagai organisasi ekstremis.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement