Jumat 15 Mar 2024 07:27 WIB

Mengenal Para Kandidat Calon Presiden Rusia

Putin diperkirakan akan menjadi penguasa terlama Rusia sejak Josef Stalin.

Rep: Lintar Satria/ Red: Setyanavidita livicansera
Pilpres Langsung Rusia Dimulai, Putin Maju Sebagai Calon Independen
Foto: Antara
Pilpres Langsung Rusia Dimulai, Putin Maju Sebagai Calon Independen

REPUBLIKA.CO.ID, MOSKOW -- Rusia akan menggelar pemilihan umum pada 15 sampai 17 Maret di mana kemungkinan besar Presiden Vladimir Putin akan kembali menang dan berkuasa untuk enam tahun lagi. Ia akan menjadi penguasa terlama Rusia sejak Josef Stalin.

Berikut para kandidat yang ikut dalam pemilihan kali ini: 

Baca Juga

Vladimir Putin

Sebagai pemegang kendali atas semua tuas kekuasaan negara,  Vladimir Putin diperkirakan akan menang mudah dalam pemilihan umum tahun ini. Dicerca oleh para kritikus Kremlin sebagai penjahat perang otokratis yang memerintah dengan rasa takut, jajak pendapat menunjukkan ia didukung mayoritas orang Rusia.

Ia dianggap pemimpin tangguh yang diperlukan untuk menghadapi apa yang mereka anggap sebagai campur tangan dan ekspansionis Barat. Pada Februari lalu jajak pendapat pemerintah mengungkapkan 75 persen pemilih Rusia siap kembali memilih Putin.

Sebagai seorang mantan letnan kolonel KGB, Putin ditunjuk sebagai presiden sementara pada hari terakhir tahun 1999 oleh Boris Yeltsin. Ia kemudian menjabat selama dua periode masa jabatan empat tahun dari 2000-2008 sebelum menjadi perdana menteri pada 2008-2012.  

Ia kembali menjadi presiden pada 2012 setelah masa jabatan presiden diperpanjang menjadi enam tahun, dan sekali lagi pada 2018. Pada 2020, perubahan konstitusi memungkinkan Putin untuk menjabat dua kali masa jabatan enam tahun lagi dari 2024. Ini berarti ia bisa tetap berkuasa hingga 2036.

Nikolai Kharitonov

Anggota parlemen berusia 75 tahun ini merupakan kandidat resmi Partai Komunis. Ia selalu berada di urutan kedua setelah Putin dalam setiap pemilihan umum sejak 2000.

Kharitonov yang beretnis Siberia pernah mencalonkan diri pada 2004 dan meraih 13,8 persen suara, sementara Putin meraih 71,91 persen suara. Jajak pendapat pemerintah pada bulan Februari lalu menunjukkan sekitar 4 persen orang Rusia siap untuk memilihnya.

Dikutip kantor berita pemerintah TASS, Kharitonov  mengatakan ia tidak akan menemukan kesalahan pada pemimpin Kremlin tersebut. "Ia (Putin) bertanggung jawab atas siklus kerjanya sendiri, mengapa saya harus mengkritiknya?" katanya.

Kharitonov mendukung apa yang disebut Putin sebagai operasi militer khusus Rusia di Ukraina. Namun di masa lalu ia menentang beberapa kebijakan domestik Partai Rusia Bersatu yang pro-Putin. Ia mendapat dukungan dari Gennady Zyuganov, seorang veteran pemimpin Partai Komunis yang berusia 79 tahun.

Leonid Slutsky

Anggota senior Duma, Slutsky yang berusia 56 tahun merupakan ketua partai ultra-nasional Partai Liberal Demokratik (LDPR). Ia menjabat sebagai ketua permanen partai sejak tokoh partai itu Vladimir Zhirinovsky meninggal dunia pada 2022.

Slutsky yang sering tampil di stasiun televisi pemerintah dan menyuarakan pandangan anti-Barat, berusaha memanfaatkan popularitas mendiang pendahulunya di kalangan masyarakat Rusia dengan mengkampanyekan slogan "Zhirinovsky tetap hidup."

Jajak pendapat pemerintah pada bulan Februari lalu menunjukkan sekitar 4 persen orang Rusia siap untuk memilihnya. Sudah lama Slutsky menjadi ketua komite urusan luar negeri Duma. Ia berbicara tentang perlunya Rusia memenangkan perang di Ukraina dan pentingnya menjaga harga pangan. Pada 2018, sekelompok jurnalis perempuan menuduh Slutsky melakukan pelecehan seksual. Sebuah komisi parlemen membebaskannya, dan para penuduhnya menuduh adanya pemutihan.

Vladislav Davankov

Ketua majelis rendah parlemen Rusia dan anggota parlemen dari partai Partai New People, Vladislav Davankov merupakan kandidat termuda dan penerima berbagai penghargaan negara termasuk dari Putin. Pria 40 tahun itu mengatakan tidak akan mengkritik Putin.

Slogan kampanye "Ya untuk perubahan!" dan "Waktunya untuk rakyat baru!" Davankov mencoba memposisikan diri sebagai seseorang yang menentang pembatasan berlebihan kebebasan pribadi dan dalam konteks politik Rusia, ia masuk kategori liberal.

Tanpa menyebut Ukraina, ia mengatakan ia mendukung "Perdamaian dan perundingan. Tapi dengan syarat-syarat kami dan tanpa ada kemunduran." Jajak pendapat pemerintah pada bulan Februari lalu menunjukkan sekitar lima persen orang Rusia siap untuk memilihnya.

Alexei Navalny

Alexei Navalny yang meninggal di usia 47 tahun pada Februari lalu ingin menjadi presiden Rusia dan kritikus Putin paling vokal di dalam negeri. Pendukung Navalny menuduh Putin membunuhnya di dalam penjara, tuduhan yang dibantah keras Kremlin.

Semasa hidupnya, Navalny menuduh Kremlin menjauhkannya dari dunia politik dengan mengarang berbagai kasus kriminal terhadapnya termasuk penipuan dan ekstremisme  untuk memenjarakannya. Navalny juga menuduh Putin meracuninya pada 2020, sesuatu yang dibantah Putin.

Kremlin menganggap Navalny sebagai ekstremis yang didukung AS untuk mengacaukan stabilitas Rusia. Sekutu utama Navalny berada di penjara atau tinggal di luar Rusia.

Istrinya, Yulia, meminta orang-orang Rusia yang mendukung mendiang suaminya untuk datang ke tempat pemungutan suara pada tengah hari tanggal 17 Maret untuk menyatakan perasaan mereka. Di masa lalu Kremlin menyebut seruan semacam itu sebagai "provokasi".

Boris Nadezhdin

Nadezhdin mencoba maju pemilihan umum dengan kampanye anti-perang tapi pada Februari lalu Komisi Pemilihan Umum Pusat (CEC) mendiskualifikasinya. Nadezhdin mengejutkan sejumlah pengamat karena ia mengkritik perang Rusia di Ukraina yang menurutnya "kesalahan fatal" dan mengatakan akan mengakhirinya melalui negosiasi.

Para kritikus Kremlin mengatakan Nadezhdin bahkan tidak akan diizinkan untuk berkampanye dan mengumpulkan tanda tangan tanpa restu dari pihak berwenang, tuduhan yang ia bantah.

CEC mengatakan mereka menemukan kekurangan dalam tanda tangan yang dikumpulkan Nadezhdin dan sekutunya untuk mendukung pencalonannya, dan beberapa di antaranya berasal dari orang yang sudah meninggal.

Oleh karena itu, Nadezhdin gagal mengumpulkan 100 ribu tanda tangan yang diperlukan untuk menjadi kandidat calon presiden. Sejak saat itu, ia tidak berhasil menggugat diskualifikasinya di Mahkamah Agung.

Yekaterina Duntsova

Mantan jurnalis TV Yekaterina Duntsova, 40 tahun, ingin mencalonkan diri sebagai presiden. Ia juga menyerukan diakhirinya konflik di Ukraina dan membebaskan tahanan politik.

Bukan nama yang terkenal di Rusia, para pejabat pemilu mendiskualifikasinya pada bulan Desember, dengan alasan "banyak pelanggaran" dalam surat-surat yang ia serahkan untuk mendukung pencalonannya. Upayanya untuk menggugat keputusan itu tidak berhasil. Ketika Duntsova mengumumkan pada November lalu ia ingin mencalonkan diri, para komentator menggambarkannya sebagai orang yang gila, berani, atau bagian dari rencana Kremlin untuk menciptakan pemilu tahun ini kompetitif. 

sumber : reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement