Jumat 17 Sep 2021 19:59 WIB

Sejumlah Studi Dukung Pemberian Booster Vaksin Pfizer

FDA masih belum memberikan keputusan soal dosis booster vaksin Covid-19 Pfizer.

Rep: Rr Laeny Sulistyawati/ Red: Reiny Dwinanda
Vaksinasi Covid-19 dengan vaksin Pfizer. Komite penasihat independen AS akan mengadakan pertemuan Jumat untuk mempertimbangkan data yang berkaitan dengan booster Pfizer.
Foto: Prayogi/Republika.
Vaksinasi Covid-19 dengan vaksin Pfizer. Komite penasihat independen AS akan mengadakan pertemuan Jumat untuk mempertimbangkan data yang berkaitan dengan booster Pfizer.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Beberapa penelitian yang diterbitkan pada Rabu (15/9) mendukung potensi pemberian dosis penguat (booster) vaksin Covid-19 Pfizer di tengah menurunnya kekebalan. Meski begitu, dokumen mencatat bahwa Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) masih bersikap netral menjelang pertemuan terkait masalah ini pada Jumat (17/9).

Komite penasihat independen akan mengadakan pertemuan Jumat untuk mempertimbangkan data yang berkaitan dengan booster Pfizer. Komite akan mencermati ketersediaan bukti substansial yang mendukung persetujuan pemberian booster untuk orang berusia 16 tahun ke atas, yaitu enam bulan setelah dosis pertama.

Baca Juga

"Beberapa penelitian observasional telah mengindikasikan adanya penurunan kemanjuran vaksin Pfizerdari waktu ke waktu dalam melawan infeksi simtomatik atau varian delta, sementara yang lain tidak," bunyi dokumen pengarahan FDA, seperti dikutip dari laman Fox News, Jumat.

FDA juga mencatat bahwa vaksin lainnya saat ini masih menawarkan perlindungan terhadap Covid-19 yang parah dan kematian di Amerika Serikat (AS). FDA mengakui, ada banyak studi yang berpotensi relevan terhadap pemberian booster.

"Tetapi FDA belum secara independen meninjau atau memverifikasi data yang menjadi landasannya maupun kesimpulannya," demikian bunyi dokumen itu.

Menurut dokumen FDA, harus diakui bahwa ada bias yang diketahui dan tidak diketahui yang dapat memengaruhi keandalan vaksin meskipun studi observasional yang ada dapat membantu memahami efektivitas vaksin di dunia nyata. Karena bias ini, beberapa studi lebih dapat diandalkan daripada yang lain.

Badan tersebut juga menyiratkan adanya preferensi untuk studi efektivitas vaksin yang dilakukan di AS agar paling akurat mencerminkan populasi. Satu studi yang diterbitkan dalam jurnal kesehatan New England Journalnof Medicine (NEJM) pada Rabu berasal dari data Kementerian Kesehatan Israel yang melibatkan suntikan booster kepada orang dewasa berudia 60 tahun ke atas.

Hasil penelitian tersebut menunjukkan, mereka yang diberikan dosis tambahan menghadapi penurunan risiko infeksi 11 kali lipat dan lebih dari 19 kali lipat turun risikonya terkena penyakit parah. Kondisi itu dicapai setidaknya 12 hari setelah pemberian booster.

Sementara itu, uji coba multinasional yang sedang berlangsung terhadap lebih dari 44 ribu peserta berusia 16 tahun ke atas menunjukkan penurunan bertahap kemanjuran vaksin Pfizer-BioNTech enam bulan setelah pemberian dua dosis. Studi yang diterbitkan di NEJM oleh Pfizer itu mencatat perkiraan penurunan rata-rata enam persen dalam kemanjurkan setiap dua bulan.

Dalam dua bulan setelah dosis kedua vaksin Covid-19 Pfizer, kemanjuran mencapai puncaknya sekitar 96 persen lalu turun menjadi 90 persen dalam empat bulan kemudian. Setelah itu, perlindungannya turun lagi menjadi sekitar 84 persen pada tanggal batas data.

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement