Sabtu 02 Oct 2021 04:42 WIB

Kemlu: Wajar Indonesia Was-Was Soal AUKUS

Akuisisi kapal selam nuklir dikhawatirkan picu perlombaan senjata nuklir.

 Presiden AS Joe Biden menyampaikan sambutan tentang prakarsa keamanan nasional di Ruang Timur Gedung Putih di Washington, DC, AS, 15 September 2021. Perdana Menteri Australia Scott Morrison dan Perdana Menteri Inggris Boris Johnson (kanan) berpartisipasi secara virtual.
Foto: EPA-EFE/Oliver Contreras
Presiden AS Joe Biden menyampaikan sambutan tentang prakarsa keamanan nasional di Ruang Timur Gedung Putih di Washington, DC, AS, 15 September 2021. Perdana Menteri Australia Scott Morrison dan Perdana Menteri Inggris Boris Johnson (kanan) berpartisipasi secara virtual.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Direktur Jenderal Kementerian Luar Negeri RI untuk Asia-Pasifik dan Afrika, Abdul Kadir Jailani, mengatakan bahwa wajar bagi Indonesia untuk merasa was-was terkait pembentukan kerja sama keamanan trilateral antara Australia, Inggris, Amerika Serikat (AUKUS). Langkah Australia mengubah geopolitik di kawasan.

“Terdapat alasan-alasan yang logis untuk bagi Indonesia untuk menjadi was-was karena tindakan yang diambil oleh Australia akan mengubah situasi geopolitik di kawasan, ini akan menjadi faktor yang mendestabilisasi,” katanya dalam acara diskusi "AUKUS: Responses from Southeast Asia" yang diselenggarakan oleh Foreign Policy Community Indonesia di Jakarta, Jumat, seperti dikutip kantor berita Antara.

Baca Juga

Australia menjalin kerja sama keamanan dengan Inggris dan Amerika Serikat, yang di dalamnya Australia menyepakati pembuatan kapal selam bertenaga nuklir untuk memperkuat angkatan lautnya.

Menurut Jailani, langkah tersebut akan menjadi faktor yang menyebabkan destabilisasi. “Karena tak ada yang namanya akuisisi kapal selam tenaga nuklir yang tanpa kemungkinan munculnya perlombaan senjata nuklir,” katanya.

Jailani menekankan bahwa pembentukan kerja sama AUKUS merupakan isu yang penting bagi Indonesia. Tak hanya karena Australia merupakan tetangga dekat, tapi karena AUKUS juga memunculkan kekhawatiran perlombaan persenjataan yang ditandai dengan meningkatnya proyeksi kekuatan di wilayah

Lebih lanjut, Jailani mengatakan Indonesia telah menegaskan posisinya terkait situasi geopolitik di kawasan. Indonesia mengingatkan Australia atas kewajiban regionalnya untuk menjaga perdamaian dan keamanan.

Pada saat yang sama, Indonesia juga menekankan kewajiban semua pihak terkait untuk menghormati hukum internasional. “Indonesia selalu bekerja keras untuk menghindari terseret ke ketegangan geopolitik atau dipaksa mengambil posisi partisan, dan untuk alasan itu, Indonesia menyerukan pada Australia untuk menjaga komitmen terkait keamanan dan stabilitas serta keamanan regional,” katanya.

sumber : Antara

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement