Selasa 07 Dec 2021 15:11 WIB

Laporan: China Punya Rudal Kontainer Buat Serang Musuh

Rudal di dalam kontainer ini bisa ditaruh di dekat pelabuhan Pangkalan AS.

Rep: Fergi Nadira/ Red: Teguh Firmansyah
Rudal China. (China Ministry of National Defence)
Rudal China. (China Ministry of National Defence)

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING -- China secara rahasia dilaporkan telah mengembangkan sistem rudal kontainer. Sistem ini dapat disamarkan sebagai kargo komersial yang dapat dengan mudah mendapatkan akses ke hampir semua pelabuhan internasional.

Pengamat militer Asia di Pusat Penilaian dan Strategi Internasional, Rick Fisher, menyatakan, rudal-rudal itu difungsikan berdasarkan prinsip 'Kuda Troya' atau dapat digunakan di kapal mana pun. Untuk melakukannya, mereka mengubah banyak kapal pribadi China menjadi armada militer.

Baca Juga

Rudal itu juga dapat dipasang di kapal-kapal kecil China yang tidak mencolok untuk melakukan serangan rudal kejutan terhadap pertahanan pantai guna membantu pasukan invasi amfibi atau udara.

Sementara itu, menurut Fisher, rudal di kontainer China itu dapat disimpan selama berabad-abad di gudang dekat pangkalan militer AS. Hulu ledak elektromagnetik-nya bisa menonaktifkan pangkalan kapal selam rudal balistik nuklir terdekat.

"Ledakan EMP mungkin menghancurkan elektronik di [kapal selam] dan di seluruh pangkalan tanpa harus meluncurkan rudal nuklir dari China,” kata Fisher dikutip dari SputnikNews.

"Washington akan berada dalam kekacauan, tidak akan tahu siapa yang harus membalas, dan mungkin China menggunakan gangguan Amerika untuk memulai tujuan sebenarnya, penaklukan militer Taiwan," katanya.

Menempatkan sistem rudal dalam wadah bukanlah konsep militer baru, karena sejumlah negara telah terlibat dalam praktik ini selama bertahun-tahun. Teknologi baru di bidang elektronik, mesin berukuran kecil, bahan bakar roket, dan bahan peledak telah memfasilitasi pengembangan rudal jelajah berukuran kecil.

Sistem ini pertama kali ditempatkan di kontainer angkatan laut satu dekade lalu oleh sejumlah negara, termasuk Rusia, AS, dan Inggris.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement