Kamis 17 Feb 2022 10:19 WIB

Kepala Intelijen Australia Peringatkan tidak Politisasi Intervensi Asing

Jelang pemilu, PM Australia lancarkan serangan politik pada lawannya.

Rep: Lintar Satria/ Red: Friska Yolandha
Direktur Jenderal Organisasi Keamanan Intelijen Australia (ASIO) Mike Burgess
Foto: Mick Tsikas/AAP Image via AP
Direktur Jenderal Organisasi Keamanan Intelijen Australia (ASIO) Mike Burgess

REPUBLIKA.CO.ID, SYDNEY -- Kepala intelijen Australia memperingatkan untuk tidak mempolitisasi saran intelijen. Ia mengatakan upaya gagal pemerintah asing melakukan intervensi mengincar kedua belah pihak yang bersaing dalam pemilihan umum bulan Mei mendatang.  

Pernyataan Direktur Jenderal Organisasi Keamanan Intelijen Australia (ASIO) Mike Burgess dalam sebuah wawancara televisi ini disampaikan setelah Perdana Menteri Scott Morrison menuduh lawannya sebagai 'Manchurian Candidate' atau boneka pemerintah asing dalam hal ini China. Morrison kemudian menarik kembali tuduhan tersebut.

Baca Juga

Menjelang pemilihan umum Morrison dan menteri-menterinya tanpa henti melancarkan serangan politik ke oposisi yang mereka tuduh ingin menyenangkan China. Partai berkuasa mengatakan China telah "memilih kuda mereka" dan itu adalah ketua Partai Buruh Anthony Albanese.  

Dalam wawancaranya dengan Australian Broadcasting Corp (ABC), Burgess mengatakan lembaga intelijen di luar politik. Ia menegaskan mempolitisasi intervensi negara asing tidak membantu Australia.

"Intervensi asing dilakukan terhadap semua anggota parlemen maka jangan mengincar partai tertentu atau lainnya," kata Burgess Rabu (16/2/2022) waktu setempat.

Pernyataan ini didukung mantan kepala intelijen Australia Dennis Richardson. Dalam wawancara televisi pada Kamis (17/2/2022) pagi, Richardson mengatakan taktik pemilihan umum pemerintah hanya melayani kepentingan China.

Ia mengatakan dalam kebijakan soal China tidak ada perbedaan antara Partai Buruh dan pemerintah.

"Berusaha menciptakan persepsi terdapat perbedaan ketika pada praktiknya tidak ada untuk memperkuat tujuan politik partai sesuatu yang tidak pernah kami lihat di pemerintah Australia dalam beberapa dekade, dan tidak melayani kepentingan nasional," kata Richardson di ABC.

"Pada dasarnya hanya melayani kepentingan satu negara dan itu adalah China," tambahnya.

Burgess tidak menyebut nama pemerintah asing yang mencoba mempengaruhi politisi Australia. Ia mengatakan pelakunya berusaha sangat keras.

"Kami tidak yakin pemerintah asing pada akhirnya dapat mengubah hasil pemilihan kami," tambahnya.

Dokumen pengadilan dan pernyataan dari partai politik menunjukkan dua penyelidikan intervensi negara asing yang dilakukan polisi federal dan ASIO sejak pemilihan umum federal yang terakhir berkaitan dengan China. Intervensi itu menyentuh dua partai terbesar.

Pada tahun 2020 polisi menggerebek sebuah di New South Wales dalam penyelidikan terhadap staf seorang politisi Partai Buruh yang diduga memiliki hubungan dengan pemerintah China. Tidak ada pihak yang didakwa.

Pada tahun 2020 lalu mantan kandidat Partai Liberal Di Sanh Duong menjadi orang pertama yang didakwa menyiapkan intervensi negara asing berdasarkan undang-undang yang disahkan dua tahun sebelumnya. Sidangnya akan digelar bulan Mei mendatang.

Partai Liberal cabang Victoria mengkonfirmasi Duong mengundurkan diri dari pada tahun 2020 lalu. Setelah ia disorot karena dakwaan tersebut. 

 

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement