Kamis 17 Feb 2022 20:51 WIB

Telepon Menlu Rusia dan Ukraina, Retno Marsudi Tekankan untuk Tahan Diri

Retno menyampaikan bahwa rakyat dunia tidak menginginkan konflik apalagi perang.

Rep: Fergi Nadira/ Red: Dwi Murdaningsih
Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Retno Marsudi. Retno Marsudi telah melakukan panggilan telepon dengan Menlu Rusia Sergei Lavrov dan Menlu Ukraina Dmytro Kuleba terkait krisis Rusia-Ukraina.
Foto: AP/Jose Luis Magana
Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Retno Marsudi. Retno Marsudi telah melakukan panggilan telepon dengan Menlu Rusia Sergei Lavrov dan Menlu Ukraina Dmytro Kuleba terkait krisis Rusia-Ukraina.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Retno Marsudi telah melakukan panggilan telepon dengan Menlu Rusia Sergei Lavrov dan Menlu Ukraina Dmytro Kuleba. Secara terpisah Menlu Retno membicarakan berbagai isu termasuk perdamaian kedua negara menyusul ketegangan yang tengah berlangsung.

Dengan Menlu Rusia, Retno melakukan panggilan telepon pada Rabu (9/2/2022) pekan lalu. Dalam pembicaraannya, Retno membahas isu-isu bilateral dan bertukar pandang tenjang sejumlah isu regional dan global.

Baca Juga

Sementara melalui telepon dengan Kuleba pada Rabu (16/2/2022), Retno membahas persiapan rencana kunjungan Presiden Ukraina ke Indonesia tahun ini. Tahun 2022, kata Retno, menandai peringatan 30 tahun hubungan diplomatik Indonesia-Ukraina.

"Selain penguatan kerja sama politik, kedua negara sepakat juga sepakat mengenai perkuat kerja sama ekonomi antara lain melalui negosiasi preferential trade agreement," ujar Retno dalam press briefing virtual, Kamis (17/2/2022).

Sementara itu, Retno menyampaikan pesan perdamaian kepada kedua Menlu. Retno menegaskan keduanya dapat menahan diri dari situasi yang tengah berkembang dan memberikan kesempatan bagi dialog dan diplomasi untuk bekerja dalam situasi sulit ini.

"Semua negara bertanggung jawab untuk menyampaikan pesan perdamaian. Sebab konflik tidak ada manfaatnya dan energi dunia saat ini harus diarahkan untuk mengatasi pandemi dan pemulihan ekonomi dunia," kata Retno.

Retno juga menyampaikan bahwa rakyat dunia tidak menginginkan konflik apalagi perang. Jika terjadi, lanjutnya, pasti akan berpengaruh pada upaya global untuk mengatasi pandemi dan pemulihan ekonomi.

Sebulan terakhir ini negara-negara Barat, termasuk Organisasi Pertahanan Atlantik Utara (NATO) melaporkan tentang potensi serangan Rusia ke Ukraina. Agresi Rusia disebut dapat terjadi kapan saja, bahkan segera. Kabar mulai beredar bahwa  Moskow akan memulai serangannya pada 16 Februari.

Rusia telah berulang kali membantah tuduhan tersebut. Kepemimpinan Vladimir Putin mengatakan tidak memiliki rencana itu terhadap Ukraina. Beda hal soal pengerahan lebih dari 100 ribu tentara ke perbatasan Ukraina, Moskow mengeklaim hal tersebut hanya untuk keperluan latihan.

Ketegangan antara Rusia dan Ukraina sudah berlangsung sejak 2014 ketika Moskow mencaplok Krimea. Pertempuran antara milisi pro-Rusia dan pasukan Ukraina berlangsung di Donbass. Konfrontasi bersenjata telah menyebabkan lebih dari 13 ribu korban jiwa. Hingga kini Donbass masih menjadi titik panas.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement