Rabu 23 Mar 2022 21:17 WIB

Prancis Telah Bekukan Aset Rusia Lebih dari 800 Juta Euro

Prancis membekukan aset-aset Rusia di Prancis dan memberi dukungan kuat pada Ukraina

Rep: Lintar Satria/ Red: Esthi Maharani
Presiden Prancis Emmanuel Macron, kiri, berjabat tangan dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy. Prancis telah membekukan lebih dari 800 juta euro aset milik Rusia
Foto: AP/Efrem Lukatsky
Presiden Prancis Emmanuel Macron, kiri, berjabat tangan dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy. Prancis telah membekukan lebih dari 800 juta euro aset milik Rusia

REPUBLIKA.CO.ID, PARIS -- Juru bicara pemerintah Prancis Gabriel Attal mengatakan negaranya telah membekukan lebih dari 800 juta euro aset milik Rusia. Tapi dalam pernyataannya Rabu (23/3/2022) tidak memberikan detail lebih lanjut.

Pada Ahad (20/3/2022) Menteri Keuangan Prancis Bruno Le Maire mengatakan di stasiun televisi LCI, sejauh ini Prancis telah membekukan sekitar 150 juta euro dari rekening citizens' bank dengan lembaga finansial Prancis di Prancis. Serta real estate senilai 539 juta euro.

Le Maire mengatakan Prancis juga menahan dua kapal pesiar milik orang Rusia senilai 150 juta euro. Setelah membekukan aset-aset milik Rusia lainnya senilai 850 juta euro.

Sebagai respon atas invasi Rusia ke Ukraina yang dimulai pada 24 Februari lalu Paris tidak hanya membekukan aset-aset Rusia di Prancis tetapi juga memberi dukungan kuat pada Ukraina.

Prancis mengatakan kendaraan tim penyelamat dan peralatan darurat yang dikirim untuk Ukraina sudah berangkat dari Paris. Bantuan itu akan digunakan layanan darurat Ukraina.

Dalam pernyataannya Kementerian Luar dan Dalam Negeri Prancis mengatakan 100 pemadam kebakaran dan tim penyelamat akan berangkat bersama kendaraan dan peralatan darurat ke Romania, perbatasan Ukraina.

Bantuan itu terdiri dari 11 mesin pemadam kebakaraan, 16 mobil penyelamat, dan 23 truk yang membawa 49 ton peralatan darurat dan kesehatan.

Bantuan itu tambahan dari 21 ambulan baru yang dikirim Selasa (22/3) kemarin. Pernyataan tersebut kementerian menambahkan operasi ini bertujuan membantu Lembaga Situasi Darurat Ukraina untuk "memobilisasi bantuan kepada para korban siang dan malam."

Sementara itu pemimpin Ukraina menuduh Rusia menculik 15 tim penyelamat dan supir dari konvoi yang membawa bantuan kemanusiaan. Tim tersebut membawa makanan dan pasokan lainnya ke Kota Mariupol yang dikepung rapat Rusia.

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement