Ahad 17 Jul 2022 18:39 WIB

Iran Tuding AS Sebarkan 'Iranofobia'

Presiden AS Joe Biden membahas nuklir Iran saat tur diplomatik.

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Dwi Murdaningsih
Seorang inspektur Badan Energi Atom Internasional memasang peralatan pengawasan, di Fasilitas Konversi Uranium Iran, di luar kota Isfahan, Iran, 8 Agustus 2005. Iran mematikan dua kamera pengintai pengawas nuklir PBB yang memantau salah satu situs atomnya, televisi pemerintah melaporkan Rabu, 8 Juni 2022. Laporan itu tidak mengidentifikasi situs tersebut.
Foto: AP Photo/Mehdi Ghasemi, ISNA
Seorang inspektur Badan Energi Atom Internasional memasang peralatan pengawasan, di Fasilitas Konversi Uranium Iran, di luar kota Isfahan, Iran, 8 Agustus 2005. Iran mematikan dua kamera pengintai pengawas nuklir PBB yang memantau salah satu situs atomnya, televisi pemerintah melaporkan Rabu, 8 Juni 2022. Laporan itu tidak mengidentifikasi situs tersebut.

REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN -- Pemerintah Iran menuding Amerika Serikat (AS) menyebarkan “Iranofobia” untuk menciptakan ketegangan di kawasan Timur Tengah. Hal itu disampaikan setelah Presiden AS Joe Biden melakukan tur diplomatik ke kawasan tersebut.

“AS sekali lagi berusaha menciptakan ketegangan dan krisis di kawasan dengan menarik kebijakan Iranofobia yang gagal,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Nasser Kanani, Ahad (17/7/2022).

Baca Juga

Biden diketahui telah melakukan tur diplomatik ke Israel, Palestina, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab (UEA). Saat bertemu Perdana Menteri Israel Yair Lapid dan Putra Mahkota Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman (MBS), Biden turut mendiskusikan tentang isu nuklir Iran. Ketiga negara itu sepakat akan berusaha mencegah Iran mengembangkan dan memiliki senjata nuklir.

Biden pun sempat berpartisipasi dalam Jeddah Security and Development Summit yang digelar negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC), bersama Mesir, Yordania, dan Irak atau lebih dikenal sebagai GCC+3 di Jeddah, Jumat (15/7/2022). Salah satu poin yang termaktub dalam komunike KTT tersebut adalah tentang Iran.  

Para pemimpin negara GCC+3 menyerukan Iran agar sepenuhnya bekerja sama dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) dan negara-negara di kawasan guna menjamin wilayah itu bebas senjata pemusnah massal.

Sebelumnya Presiden Iran Ebrahim Raisi mengungkapkan, lawatan diplomatik Biden ke Timur Tengah tidak akan membawa perdamaian bagi Israel. Raisi pun menyinggung tentang upaya AS membantu Israel merangkul lebih banyak negara di kawasan untuk melakukan normalisasi diplomatik dengannya.

“Jika kunjungan pejabat Amerika ke negara-negara di kawasan itu untuk memperkuat posisi rezim Zionis dan untuk menormalkan hubungan rezim ini dengan beberapa negara, upaya mereka tidak akan menciptakan keamanan bagi Zionis dengan cara apa pun,” ujar Raisi, Rabu (13/7/2022), dikutip laman Al Arabiya.

Dia menekankan, Iran memantau dengan cermat semua perkembangan di Timur Tengah. “Kami telah berulang kali memberi tahu mereka yang telah membawa pesan dari Amerika bahwa jika tindakan sekecil apa pun dilakukan terhadap integritas teritorial Iran, itu akan disambut dengan tanggapan tegas kami,” ucapnya.

Di hari yang sama, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Nasser Kanani mengatakan, pembentukan koalisi regional oleh AS tidak akan menjamin keamanan untuk kawasan. “Kebijakan membuat kelompok dan blok serta membentuk koalisi militer, terutama di bawah pengawasan negara non-regional, pasti tidak akan berkontribusi pada keamanan dan stabilitas,” katanya.

“Keamanan tidak dapat dibeli atau diimpor. Kami percaya bahwa menciptakan stabilitas dan keamanan di kawasan hanya dapat dicapai melalui kerja sama kolektif negara-negara kawasan, yang merupakan pemilik sebenarnya dari kawasan tersebut,” ujar Kanani menambahkan.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement